Kamis, 17 Juli 2025

SEJARAH SEPUTAR MAJAPAHIT



Dyah Pitaloka Citraresmi atau Citra Rashmi (1340–1357) adalah seorang putri Kerajaan Sunda Galuh. Menurut Pararaton, ia dijodohkan dengan Hayam Wuruk, raja Majapahit yang sangat berhasrat untuk menjadikannya sebagai permaisuri. Akan tetapi dalam tragedi Perang Bubat, putri raja sunda ini bunuh diri setelah mendapati ayahnya (Prabu Maharaja) dan semua pengiring rombongan tewas. Tradisi menyebutkan Dyah Pitaloka sebagai gadis yang sangat cantik.
Hayam Wuruk, raja Majapahit, dan dengan didasari alasan politik, ingin menjadikan putri Citra Rashmi (Pitaloka) sebagai istrinya. Ia adalah anak perempuan dari Prabu Maharaja Lingga Buana dari Kerajaan Sunda. Pada referensi lain yakni Kitab Pararaton menyebut "...Bhre Prabhu ayun ing Putri ring Suṇḍa. Patih Maḍu ingutus anguṇḍangeng wong Suṇḍa, ahidep wong Suṇḍa yan awawarangana ..." yang menyatakan bahwa saat itu Hayam Wuruk mengutus Patih Madhu, makcomblang dari Majapahit, datang ke kerajaan Sunda untuk menjodohkan dan melamar tuan putri Sunda dalam suatu pernikahan kerajaan.
Adapun pada sisi lain, menurut beberapa sumber lain yaitu Wim Van Zaten, seorang Antropologis dari Universitas Leiden Belanda dalam "The Poetry of Tembang Sunda" dan J Noorduyn dalam " Bujangga Manik's Journeys through Java : Topographical Data from An Old Sundanese Source" menyatakan saat itu Wilayah Jawa dipandang memiliki budaya dan lembaga pendidikan agama yang lebih tinggi oleh masyarakat Sunda, sehingga banyak masyarakat Sunda belajar ke Jawa dan mengadopsi beberapa aspek budaya jawa. Dengan kondisi tersebut, sehingga menjadikan Putri Sunda ingin menikah dengan Raja Jawa sebagaimana di ungkapkan dalam Carita Parahyangan yakni "...Urang reya sangkan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakian di Sunda..." yang terjemahannya adalah "... Awalnya mereka pergi ke Jawa, sebab putri tidak mau bersuami orang Sunda...".
Berbesar hati serta melihat perjodohan ini sebagai peluang untuk mengikat persekutuan dengan kerajaan Majapahit yang besar dan jaya, raja Sunda dengan suka cita memberikan restunya dan ikut pergi mengantarkan putrinya ke Majapahit untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk.
Pada tahun 1357 rombongan kerajaan Sunda tiba di Majapahit setelah melayari Laut Jawa. Rombongan kerajaan Sunda mendirikan pesanggrahan di Lapangan Bubat di bagian utara Trowulan, Ibu Kota Majapahit. Mereka menantikan jemputan dari pihak Majapahit serta upacara kerajaan yang pantas layaknya pernikahan agung kerajaan.
Dari Pihak Kerajaan Majapahit memiliki dilema atas kedatangan calon permaisuri ini. Menurut catatan dari Pustaka Rajyarajya yang berasal dari Cirebon & merupakan bagian dari Naskah Wangsakerta yang tersimpan di Museum Sejarah Sunda "Sri Baduga" di Bandung, Kakek Hayam Wuruk yaitu Raden Wijaya (penerus tahta kerajaan Sunda ke-26) adalah putra dari Rakyan Jayadarma yang menikah dengan Dyah Lembu Tal. Dimana Rakyan Jayadarma yang tewas diracun akibat perebutan kekuasaan, merupakan putra mahkota kerajaan Sunda dari Prabu Guru Darmasiksa. Sehingga Hayam Wuruk dianggap masih memiliki kekerabatan dekat dengan calon permaisuri. Hal ini menjadikan Gajah Mada menyampaikan kepada rombongan kerajaan Sunda bahwa perkawinan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka tidak dapat dilaksanakan. Merasa dipermalukan, rombongan kerajaan Sunda pada akhirnya memilih berperang Majapahit demi menjaga kehormatan.
Sedangkan pada bagian lain, menurut seorang Arkeolog Indonesia bernama Agus Aris Munandar yang menafsirkan dari kisah Panji Angreni (1801) menyatakan bahwa ayahanda Hayam Wuruk yang bernama Kertawardhana (suami dari Tribhuwanatunggadewi) berkeberatan dengan pernikahan tersebut, terlebih Hayam Wuruk telah dijodohkan dengan Indudewi, anak Rajadewi Maharajasa yang berkedudukan di Daha (Kediri). Sehingga Kertawarddhana memerintahkan Gajah Mada untuk membatalkan pernikahan tersebut
Selain kedua hal tersebut diatas, sebuah informasi yang masih dipelajari sumbernya menyatakan bahwa Mahapatih Gajah Mada memandang peristiwa ini sebagai kesempatan untuk menaklukan Sunda dibawah kemaharajaan Majapahit, dan bersikeras bahwa Sang Putri dipersembahkan untuk Raja Majapahit, sebagai tanda takluk Kerajaan Sunda di bawah kekuasaan Majapahit
Raja Sunda amat murka dan memilih melawan Majapahit demi menjaga kehormatan.
Akibat ketegangan ini terjadi pertempuran antar rombongan kerajaan Sunda melawan tentara Majapahit. Rombongan kerajaan Sunda berniat untuk bela pati melakukan puputan demi membela kehormatan mereka di Lapangan Bubat. Meskipun memberikan perlawanan dengan gagah berani, rombongan kerajaan Sunda kewalahan dan akhirnya gugur dalam kepungan tentara Majapahit. Hampir seluruh rombongan kerajaan Sunda tewas dalam tragedi ini. Tradisi dan kisah-kisah lokal menyebutkan bahwa dalam kesedihan dan hati yang remuk redam, Sang Putri melakukan bunuh diri untuk membela kehormatan dan harga diri negaranya
Menurut tradisi, kematian Dyah Pitaloka diratapi oleh Hayam Wuruk serta segenap rakyat Kerajaan Sunda yang kehilangan sebagian besar keluarga kerajaannya. Oleh masyarakat Sunda kematian Sang Putri dan Raja Sunda dihormati dan dipandang sebagai suatu keberanian dan tindakan mulia untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Ayah Sang Putri, Prabu Maharaja Lingga Buana disanjung dan dihormati oleh masyarakat Sunda dengan gelar "Prabu Wangi" (Bahasa Sunda: Raja yang memiliki nama yang harum) karena tindakan heroiknya membela kehormatan negaranya melawan Majapahit. Keturunannya, raja-raja Sunda yang kemudian, diberi gelar "Siliwangi" (dari kata Silih Wangi dalam bahasa Sunda berarti: Penerus Prabu Wangi). Tragedi ini sangat merusak hubungan antara kedua kerajaan ini yang berakibat permusuhan hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan kedua negara ini tidak pernah pulih kembali seperti sediakala. Sementara itu di kraton Majapahit, Gajah Mada menghadapi permusuhan dan ketidakpercayaan, karena tindakannya atas dasar fakta kedekatan kekerabatan Dyah Pitaloka dan menjalankan keinginan Ayahanda Hayam Wuruk (Kertawarddhana) tersebut, namun berakibat kurang baik kepada terlukainya perasaan Raja Hayam Wuruk.
Kisah Putri Dyah Pitaloka dan Perang Bubat menjadi tema utama dalam Kidung Sunda. Catatan sejarah mengenai peristiwa Pasunda Bubat disebutkan dalam Pararaton, akan tetapi sama sekali tidak disinggung dalam naskah Nagarakretagama yang merupakan sumber primer UNESCO The Memory of the World Register for Asia/Pasific dan memiliki informasi lebih kuat, karena Nagarakretagama ini ditulis tahun 1365 (periode kekuasaan Hayam Wuruk). Menurut beberapa sejarawan termasuk Aminuddin Kusdi menyebut bahwa Kidung Sunda digunakan sebagai sumber sejarah sekunder ataupun tersier, karena berbagai fakta sejarah di dalamnya tidak sesuai dengan sumber-sumber lain yang lebih kredibel seperti Prasasti. Disamping melihat periode penulisan Kidung Sunda pada abad ke-19 yang merupakan masa munculnya beberapa karya sastra kontroversial..


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Kisah Pendek Arca Sukasrana di Bale Agung Pura Desa Puseh Kapal "Raksasa Pemikul Taman Sri Wedari"




Sukrasana adalah adik dari Bambang Sumantri atau Patih Suwanda. Sukrasana adalah anak dari Begawan Suwandagni dari pertapaan Jatisarana. Walau pun wujudnya buta bajang (raksasa kecil), tetapi ia sangat sakti dan memiliki cinta kasih yang luar biasa kepada saudara tuanya (Sumantri). Ia senantiasa membantu kesulitan kakaknya.

Ketika itu Sumantri sedang mendapat hukuman dari Raja Arjuna Sasrabahu. Ia dapat kembali menjadi patih apabila mampu memindahkan Taman Sri Wedari dari kahyangan utara segara (tempat Batara Wisnu) ke kerajaan Maespati. Sumantri putus asa, karena tidak mungkin dapat melakukannya. Tetapi Sukrasana membantunya dengan ikhlas, bahkan hanya dengan sekejap mata, taman itu telah pindah ke Maespati. Sumantri sangat keheranan dan berterimakasih kepada adiknya itu.

Sebagai tanda terimakasih, Sukrasana minta diperkenankan ikut kakaknya ke mana pun pergi. Ini sebenarnya karena cinta kasih Sukrasana kepada kakaknya, Sumantri agak bimbang karena Sukrasana berbentuk raksasa kecil, sedangkan Sumantri sangat tampan menawan gagah perkasa.
Sumantri kembali menjadi patih (perdana mentri). Sukrasana diam-diam datang ke Maespati. Di sana ia kebingungan apa yang harus dikerjakan sementara kakaknya sedang bertugas. Lalu ia berkeliling istana, ia mendapati para putri keraton sedang mandi. Ia termenung dan terpesona akan kecantikan para putri keraton itu.

Ternyata ada salah satu putri yang menyadari kehadiran Sukrasana. Putri itu menjerit diikuti pula putri-putri lainnya. Sumantri pun segera dipanggil oleh Arjuna Sasrabahu agar adiknya itu dinasehati dan disingkirkan. Sumantri pun agak marah dan menyuruh adiknya pergi, Sukrasana pun menolak dan tetap mengikuti kakaknya. Lalu Sumantri mengangkat busur dan berpura-pura akan memanah adiknya dengan harapan adiknya (Sukrasana) itu mau pergi. Namun tetap saja merengek.

Lama-lama kelamaan tangan Sumantri berkeringat dan secara tidak sadar panahnya lepas dan mengenai Sukrasana. Adiknya pun meninggal seketika. Sumantri sangat menyesal dan menangis sambil memeluk jasad Sukrasana.

@parekan_poleng
Via @info.kapal.official 


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Sanggah Pemerajan




 Sanggah Pemerajan berasal dari kata Sanggah yang berarti Sanggar (tempat suci), Pemerajan yang berasal dari kata praja (keluarga).

Jadi Sanggah Pamerajan dapat diartikan sebagai tempat suci bagi suatu keluarga tertentu.

Secara umum kebanyakan orang menyebutnya dengan lebih singkat seperti Sanggah atau Merajan.
Akan tetapi yang perlu diingat tidak berarti bahwa Sanggah untuk orang Jaba, sedangkan Merajan untuk Triwangsa. Yang satu ini kekeliruan di masyarakat sejak lama, perlu diluruskan.

Sejarah Sanggah Pemerajan
Dalam sejarah pembangunan Sanggah Pemerajan, terdapat tiga versi. Yaitu sebagai berikut:

1. Sanggah Pemerajan dengan konsep Mpu Kuturan (Trimurti)

Pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Kemulan (Rong Tiga, Dua, Satu), tidak mempunyai pelinggih Padmasana/ Padmasari.
Kemulan yang dikembangkan oleh Mpu Kuturan, Di dalam lontar Tutur Kuturan disebutkan bahwa Kemulan Rong 3 adalah stana Sanghyang Tiga Sakti (Brahma, Wisnu, Siwa) sedangkan di ‘Batur Kemulan’ ruangan di bawah Rong 3 adalah stana roh para leluhur yang sudah disucikan (pitra yadnya)

2. Sanggah Pemerajan dengan konsep Danghyang Nirarta (Tripurusha)

Pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Padmasana/ Padmasari, sedangkan pelinggih Kemulan tidak berada di Utama Mandala.
Kemulan yang dikembangkan oleh Danghyang Nirata adalah Kemulan Rong 2, Di mana distanakan Ida Sanghyang Widhi sebagai ‘arde nareswari’ = rua bhineda (lontar Dwijendra Tattwa). Oleh karena itu maka di setiap perumahan agar dibangun tempat suci keluarga, terdiri dari pelinggih-pelinggih: Padmasari (Tripurusha), Kemulan R3 (Trimurti), Taksu (Saraswati), dan di pekarangan ada pelinggih Sedahan Karang (Bhatara Kala). Acuannya Lontar Gong Besi dan Lontar Sundarigama.

3. Sanggah Pemerajan dengan kombinasi keduanya.

Biasanya dibangun setelah abad ke-14, maka pelinggih Padmasana/ Padmasari tetap di ‘hulu’, namun di sebelahnya ada pelinggih Kemulan.

Dalam sejarah ada yang menyebutkan bahwa Mpu Kuturan dan Danghyang Nirarta mendapatkan wahyu mengenai konsep itu di Purancak/ Jembrana.

Apakah itu Trimurti dan Tripurusha? Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Trimurti adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Ang – Ung – Mang (AUM = OM) atau Brahma, Wisnu, Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi horizontal, di mana Brahma di arah Daksina, Wisnu di Uttara, dan Siwa di Madya.

Tripurusha adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi vertikal, di mana Parama Siwa yang tertinggi kemudian karena terpengaruh Maya menjadilah Sada Siwa, dan Siwa.

Pembagian Sanggah Pemerajan
Sanggah Pemerajan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut:

1)Sanggah Pamerajan Alit (milik satu keluarga kecil)
2)Sanggah Pamerajan Dadia (milik satu soroh terdiri dari beberapa ‘purus’/ garis keturunan)
3)Sanggah Pamerajan Panti (milik satu soroh terdiri dari beberapa Dadia dari lokasi Desa yang sama)

Sedangkan untuk Pelinggih yang ada di Sanggah Pemerajan, yaitu sebagai berikut

1)Sanggah Pamerajan Alit : Padmasari, Kemulan Rong Tiga, Taksu
2)Sanggah Pamerajan Dadia : Padmasana, Kemulan Rong Tiga, Limas Cari, Limas Catu, Manjangan Saluang, Pangrurah, Saptapetala, Taksu, Raja Dewata
3)Sanggah Pamerajan Panti : Sanggah Pamerajan Dadia ditambah dengan Meru atau Gedong palinggih Bhatara Kawitan
Pelinggih-pelinggih umum yang ada di Sanggah Pemerajan merupakan stana dalam niyasa Sang Hyang Widhi dan para roh leluhur yang dipuja. Penjelasan yang stana pada setiap pelinggih sebagai berikut:

Kemulan Rong Tiga yaitu Sanghyang Trimurti, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Brahma – Wisnu – Siwa atau disingkat Bhatara Hyang Guru .
Selain itu juga ada kemulan
Rong 1 (Sanghyang Tunggal),
Rong 2 (Arda nareswari),
Rong 4 (Catur Dewata),
Rong lima (Panca Dewata).

Padmasana/ Padmasari yaitu Sanghyang Tri Purusha, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa.

Sapta Petala yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai pertiwi dengan tujuh lapis: patala, witala, nitala, sutala, tatala, ratala, satala. Sapta petala juga berisi patung naga sebagai simbol naga Basuki, pemberi kemakmuran.

Taksu yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Bhatari Saraswati (sakti Brahma) penganugrah pengetahuan.

Limascari dan Limascatu yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai ardanareswari: pradana – purusha, rwa bhineda.

Pangrurah yaitu Sanghyang Widhi sebagai manifestasi Bhatara Kala, pengatur kehidupan dan waktu.

Manjangan Saluwang yaitu Pelinggih sebagai penyungsungan Mpu Kuturan, mengingat jasa-jasa beliau yang meng-ajegkan Hindu di Bali.
Raja-Dewata yaitu Pelinggih roh para leluhur (di bawah Bhatara Kawitan).

Jika dalam pembangunan Sanggah Pemerajan semeton bingung yang manakah yang baik atau lebih tepat dalam memilih menggunakan konsep dari Mpu Kuturan , Danghyang Nirarta atau konsep kombinasi dari keduanya. Sebenarnya semeton bisa menggunakan konsep yang mana saja sesuai dengan keyakinan masing-masing. Jika dikutip dari pendapat Bhagawan Dwija

” memakai kedua konsep, atau kombinasi A dan B adalah yang tepat karena kita menghormati kedua-duanya, dan kedua-duanya itu benar, mengingat Sanghyang Widhi ada di mana-mana, baik dalam kedudukan horizontal maupun dalam kedudukan vertikal.”

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk sahabat halopejati.
Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap ataupun kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama. Suksma…

sumber:sitidharma.orginputbali.com

Rabu, 16 Juli 2025

Banten Punjung Sarana Komunikasi Dengan Leluhur




Leluhur menempati tempat yang sangat istimewa pada orang Bali, dalam kehidupannya tak terlepas dengan yang namanya leluhur yang sudah meninggal. Manusia Bali senantiasa menjalin hubungan langsung dengan para leluhur yang sudah meninggal, walaupun tak kelihatan namun hubungan ini dapat dirasakan. Hukum Reinkarnasi, hukum karmapala melatarbelakangi hal tersebut. Bahkan baik buruk perilaku manusia di dunia ini juga akan mempengaruhi kehidupan para leluhur di alam sana.

Secara sekala tak tampak terjadi hubungan langsung dengan leluhur, namun secara niskala, sebenarnya manusia Bali setiap hari menjalin hubungan langsung dengan leluhur yang telah meninggal. Selain menyelanggarakan upacara pitra yadnya dan manusia yadnya secara khusus yang tujuannya untuk penebusan hutang kepada leluhur yang sudah meninggal maupun yang sedang numitis ke dunia, manusia Bali senantiasa menyelenggarakan upacara memunjung di rumah setiap hari. Semeton hindu Bali setiap menghaturkan saiban sebagai ucapan rasa syukur atas berkah Dewata, juga mengharmoniskan hubungan dengan alam semesta.

Disamping itu juga semeton hindu Bali juga setiap hari memunjung, yakni persembahan berupa hidangan kopi jaja, nasi dengan penyertanya. Punjung ini diletakkan di bale delod atau bale dangin atau tenpat khusus yang diperuntukkan memunjung. Biasanya disamping hidangan tersebut dilengkapi juga dengan pecanagan atau pabuan yang berisi seperangkat alat atau bahan nginang, yang terdiri dari base, gambir, buah, pamor, dan mako. Kadang juga dilengkapi dengan rokok. Ini semua sebenarnya adalah untuk dipersemahkan kepada leluhur yang sudah meninggal.

Keyakinan manusia Hindu Bali, bahwa para leluhur akan senantiasa datang mampir dan mengawasi para sentananya.
Untuk itulah sebagai penyambatsara (penyambutan) atau sebagai jamuan bagi para leluhur, manusia Bali menyajikan punjung secara sederhana setiap pagi sehabis memasak. Ini adalah punjung disajikan setiap hari yang sifatnya rutin, diperuntukkan bagi para leluhur yang mungkin datang.

Ada juga punjung yang dipersembahkan pada rerahinan yang sifatnya khusus, lebih istimewa, lebih beragam, dan lebih banyak. Karena dilengkapi dengan kopi, jaja, buah-buahan, dan makanan yang dihidangkan juga lebih lengkap seperti nasi, lauk pauk, kuah, sayur, sambel, sate, dll. Pokoknya lebih lengkap dan istimewa. Punjung ini dihaturkan pada hari rerahinan untuk mempermaklumkan kepada para leluhur bahwa hari ini adalah hari rerahinan.

Bahwa pretisentananya melakukan persembahan kehadapan Ida Betara berupa banten di merajan dan di pura. Dan bersamaan dengan itu para leluhur juga dipersembahkan hidangan dalam bentuk punjung, dengan harapan para leluhur di alam sana mendapatkan kerahayuan dan sekaligus mendoakan agar para pretisentananya yang hidup di dunia ini mendapat kerahayuan juga.

Dalam menghaturkan punjung saat rerahinan sang ibu atau yang menghaturkan akan mesee (berdoa dengan bahasanya sendiri) seperti misalnya “ratu sang pitara-pitari sareng sami sane nuenang driki, titian pretisentana duwene ngaturang punjung, mangda pada ledang rawuh budal ngarsayang, mangda pada ngerastitiang damuh sentana sami mangda rahayu”. Mungkin seperti itu see-nya yang mengharapkan agar para leluhur berkenan hadir pulang untuk menikmati santapan yang mampu dihidangkan oleh pretisentananya, serta leluhur berkenan untuk ngerastitiang atau mendoakan agar para sentananya mendapatkan kerahayuan di dunia ini.

Punjung tersebut juga dilengkapi dengan canang dan dupa sebagai sarana penyucian bahwa agar yang dihaturkan tersebut adalah suci dan untuk mencapai kesucian, termasuk juga kalau misalnya para leluhur yang tak sempat hadir pulang ke rumah, agar sari-sari atau amerta dari punjung tersebut sampai kepada para leluhur semuanya dimanapun berada, sehingga para leluhur menjadi senang dan berkenan.

Pada saat memunjung, leluhur diperlakukan seperti mereka masih hidup. Disediakan base, disuguhi wedang, rokok, kemudian makanan, dan seperadeg (seperangkat) pakaian dalam bentuk rantasan. Demikian juga disediakan air untuk membasuh tangan.
Setelah ritual munjung selesai, pretisentananya yang menghaturkan punjung tersebut ikut menikmati hidangan tersebut yang diistilahkan dengan ngesag punjung, sebagai simbul kebersamaan atau hubungan harmonis antara pretisentananya yang masih hidup dengan yang sudah meninggal, istilahnya makan bersama. Pada saat itulah para leluhur akan merasa senang kepada para sentananya. Seandainya punjung tersebut tak disaag atau tak dinikmati oleh sentananya, maka disebut dengan ngoga.
Para leluhur akan sedih melihatnya, karena sentananya tidak mau dekat dan tak mau bersenang-senang dengan leluhurnya.
Demikian keyakinan manusia Bali terhadap hubungannya dengan leluhur.

Selain punjung harian, punjung rerahinan, juga ada punjung yang dibawa pada hari tertentu kepada saudara yang sudah meninggal namun masih dikubur.
Biasanya dibawakan punjung pada hari rahinan ke kuburan dimana ia dikuburkan. Disana yang membawa pujung kemudian secara bersama-sama menikmati punjung di kuburan. Dan kalau misalnya tak sempat membawa punjung tersebut ke kuburan, maka punjung tersebut dihidangkan di rumah di bale dangin. Dari sini sang pitra dipanggil dengan menyebut namanya, diharapkan untuk bisa pulang sejenak menikmati hidangan punjung yang disuguhkan kepadanya dengan harapan mendapat ketenangan dan kebahagiaan di alam sana.

Ada juga punjung yang diberikan kepada orang yang baru meninggal. Pada saat ia diupacarai ngaben atau di kubur, punjung yang dibuat sangat istimewa dan beragam. Berbagai hidangan makanan, minuman, jaja-jaja, dan raka-raka dihidangkan kepadanya. Punjung ini adalah istimewa, sebagai bekal keberangkatannya ke dunia lain, atau sebagai oleh-oleh kepada para kerabat, teman dan handai taulan yang ditemui di alam sana atau disepanjang perjalanan.

Dari semua itu, punjung merupakan sarana atau media komunikasi antara leluhur dengan pretisentana yang masih hidup di dunia, untuk saling mendoakan agar mendapatkan kesejahteraan di dunia akhirat bagi yang sudah meninggal, dan di mercapada bagi yang masih hidup.

Artinya bahwa manusia Bali dengan keyakinannya tak dapat dipisahkan dengan leluhur, dengan kata lain manusia Bali dengan keyakinannya ia hidup dalam dua dunia.

Sumber & foto
kb.alitmddotcom

KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Kisah Perseteruan Majapahit Timur dan Majapahit Barat Dipicu Stempel dari Kaisar China

 

_____________________________________________

___

Kerajaan Majapahit menjalin hubungan dengan Kekaisaran China semasa Raja Hayam Wuruk berkuasa. Hubungan bilateral ini terus berjalan saat Majapahit terbelah menjadi dua timur dan barat. Di Kerajaan Majapahit barat Wikramawardhana tampil sebagai raja masih meneruskan tradisi hubungan baik dengan Kekaisaran China itu. Ketika Cheng Tsu naik tahta sebagai kaisar baru di China juga memberitahukan kepada Raja Wikramawardhana.
Sang Kaisar yang bergelar Yung Lo ini juga sering mengirimkan utusan ke Kerajaan Majapahit. Pada awal masa pemerintahan Kaisar Yung Lo inilah menugaskan Laksamana Cheng Ho yang sangat terkenal dan berulang kali dikirim ke Majapahit. Kaisar Yung Lo memerintah dari tahun 1403 hingga 1424.
Bahkan secara khusus Yung Lo sebagaimana dikisahkan pada "Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit" ia mengirimkan utusan penobatannya sebagai kaisar baru pada 1403 yang disambut dengan pengiriman utusan balasan oleh Wikramawardhana. Utusan balasan ini untuk mengucapkan selamat atas terpilihnya sang kaisar memimpin wilayah Kekaisaran China. Hubungan antara negeri China dan Majapahit makin hari bertambah rapat, lebih-lebih setelah Raja Majapahit Wikramawardhana menerima stempel perak berlapis emas dari Kaisar. Sebagai tanda terima kasih Wikramawardhana mengirim utusan ke negeri China dengan membawa upeti.
Tetapi rupanya kiriman stempel perak berlapis emas itu membangkitkan niat Raja Kerajaan Majapahit bagian Timur untuk juga mengirim utusan ke negeri China dengan membawa upeti. Namun maksud utama pengiriman utusan itu ialah untuk minta stempel sebagai tanda pengakuan resmi dari pihak kaisar. Ternyata permintaan itu dikabulkan, pemberian stempel itu membuktikan bahwa Kaisar Yung Lo memperlakukan Kerajaan Timur sejajar dengan Kerajaan Barat, atau Kerajaan Majapahit utama, sekaligus merupakan pengakuan resmi Kaisar kepada Kerajaan Timur lepas dari kekuasaan Kerajaan Barat.
Hal itu pasti membangkitkan ketidaksenangan pihak Kerajaan Barat. Kemudian timbul ketegangan antara Kerajaan Majapahit Barat dan Kerajaan Majapahit Timur. Sejarah Dinasti Ming menyatakan bahwa raja Kerajaan Majapahit Timur itu bernama Put-ling-ta-ha. Nama itu kiranya ialah transliterasi Cina dari gelar asli Bhre (ng) Daha; suatu bukti bahwa Bhre Wirabhumi benar bergelar Bhre Daha sejak tahun 1371 sepeninggal Bhre Daha Dyah Wiyat Sri Rajadewi. Apa yang dilakukan oleh Kaisar Yung Lo terhadap Kerajaan Timur, sama tepat dengan apa yang dilakukan Kaisar Hung Wu terhadap Suwarnabhumi pada tahun 1376. Tindakan itu merugikan kesatuan Kerajaan Majapahit, karena tindakan itu memecah-belah kesatuan negara Majapahit. Demikianlah bagi Majapahit hubungan dengan China kala itu lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.