Kamis, 17 Juli 2025

Sanggah Pemerajan




 Sanggah Pemerajan berasal dari kata Sanggah yang berarti Sanggar (tempat suci), Pemerajan yang berasal dari kata praja (keluarga).

Jadi Sanggah Pamerajan dapat diartikan sebagai tempat suci bagi suatu keluarga tertentu.

Secara umum kebanyakan orang menyebutnya dengan lebih singkat seperti Sanggah atau Merajan.
Akan tetapi yang perlu diingat tidak berarti bahwa Sanggah untuk orang Jaba, sedangkan Merajan untuk Triwangsa. Yang satu ini kekeliruan di masyarakat sejak lama, perlu diluruskan.

Sejarah Sanggah Pemerajan
Dalam sejarah pembangunan Sanggah Pemerajan, terdapat tiga versi. Yaitu sebagai berikut:

1. Sanggah Pemerajan dengan konsep Mpu Kuturan (Trimurti)

Pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Kemulan (Rong Tiga, Dua, Satu), tidak mempunyai pelinggih Padmasana/ Padmasari.
Kemulan yang dikembangkan oleh Mpu Kuturan, Di dalam lontar Tutur Kuturan disebutkan bahwa Kemulan Rong 3 adalah stana Sanghyang Tiga Sakti (Brahma, Wisnu, Siwa) sedangkan di ‘Batur Kemulan’ ruangan di bawah Rong 3 adalah stana roh para leluhur yang sudah disucikan (pitra yadnya)

2. Sanggah Pemerajan dengan konsep Danghyang Nirarta (Tripurusha)

Pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Padmasana/ Padmasari, sedangkan pelinggih Kemulan tidak berada di Utama Mandala.
Kemulan yang dikembangkan oleh Danghyang Nirata adalah Kemulan Rong 2, Di mana distanakan Ida Sanghyang Widhi sebagai ‘arde nareswari’ = rua bhineda (lontar Dwijendra Tattwa). Oleh karena itu maka di setiap perumahan agar dibangun tempat suci keluarga, terdiri dari pelinggih-pelinggih: Padmasari (Tripurusha), Kemulan R3 (Trimurti), Taksu (Saraswati), dan di pekarangan ada pelinggih Sedahan Karang (Bhatara Kala). Acuannya Lontar Gong Besi dan Lontar Sundarigama.

3. Sanggah Pemerajan dengan kombinasi keduanya.

Biasanya dibangun setelah abad ke-14, maka pelinggih Padmasana/ Padmasari tetap di ‘hulu’, namun di sebelahnya ada pelinggih Kemulan.

Dalam sejarah ada yang menyebutkan bahwa Mpu Kuturan dan Danghyang Nirarta mendapatkan wahyu mengenai konsep itu di Purancak/ Jembrana.

Apakah itu Trimurti dan Tripurusha? Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Trimurti adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Ang – Ung – Mang (AUM = OM) atau Brahma, Wisnu, Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi horizontal, di mana Brahma di arah Daksina, Wisnu di Uttara, dan Siwa di Madya.

Tripurusha adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi vertikal, di mana Parama Siwa yang tertinggi kemudian karena terpengaruh Maya menjadilah Sada Siwa, dan Siwa.

Pembagian Sanggah Pemerajan
Sanggah Pemerajan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut:

1)Sanggah Pamerajan Alit (milik satu keluarga kecil)
2)Sanggah Pamerajan Dadia (milik satu soroh terdiri dari beberapa ‘purus’/ garis keturunan)
3)Sanggah Pamerajan Panti (milik satu soroh terdiri dari beberapa Dadia dari lokasi Desa yang sama)

Sedangkan untuk Pelinggih yang ada di Sanggah Pemerajan, yaitu sebagai berikut

1)Sanggah Pamerajan Alit : Padmasari, Kemulan Rong Tiga, Taksu
2)Sanggah Pamerajan Dadia : Padmasana, Kemulan Rong Tiga, Limas Cari, Limas Catu, Manjangan Saluang, Pangrurah, Saptapetala, Taksu, Raja Dewata
3)Sanggah Pamerajan Panti : Sanggah Pamerajan Dadia ditambah dengan Meru atau Gedong palinggih Bhatara Kawitan
Pelinggih-pelinggih umum yang ada di Sanggah Pemerajan merupakan stana dalam niyasa Sang Hyang Widhi dan para roh leluhur yang dipuja. Penjelasan yang stana pada setiap pelinggih sebagai berikut:

Kemulan Rong Tiga yaitu Sanghyang Trimurti, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Brahma – Wisnu – Siwa atau disingkat Bhatara Hyang Guru .
Selain itu juga ada kemulan
Rong 1 (Sanghyang Tunggal),
Rong 2 (Arda nareswari),
Rong 4 (Catur Dewata),
Rong lima (Panca Dewata).

Padmasana/ Padmasari yaitu Sanghyang Tri Purusha, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa.

Sapta Petala yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai pertiwi dengan tujuh lapis: patala, witala, nitala, sutala, tatala, ratala, satala. Sapta petala juga berisi patung naga sebagai simbol naga Basuki, pemberi kemakmuran.

Taksu yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Bhatari Saraswati (sakti Brahma) penganugrah pengetahuan.

Limascari dan Limascatu yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai ardanareswari: pradana – purusha, rwa bhineda.

Pangrurah yaitu Sanghyang Widhi sebagai manifestasi Bhatara Kala, pengatur kehidupan dan waktu.

Manjangan Saluwang yaitu Pelinggih sebagai penyungsungan Mpu Kuturan, mengingat jasa-jasa beliau yang meng-ajegkan Hindu di Bali.
Raja-Dewata yaitu Pelinggih roh para leluhur (di bawah Bhatara Kawitan).

Jika dalam pembangunan Sanggah Pemerajan semeton bingung yang manakah yang baik atau lebih tepat dalam memilih menggunakan konsep dari Mpu Kuturan , Danghyang Nirarta atau konsep kombinasi dari keduanya. Sebenarnya semeton bisa menggunakan konsep yang mana saja sesuai dengan keyakinan masing-masing. Jika dikutip dari pendapat Bhagawan Dwija

” memakai kedua konsep, atau kombinasi A dan B adalah yang tepat karena kita menghormati kedua-duanya, dan kedua-duanya itu benar, mengingat Sanghyang Widhi ada di mana-mana, baik dalam kedudukan horizontal maupun dalam kedudukan vertikal.”

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk sahabat halopejati.
Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap ataupun kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama. Suksma…

sumber:sitidharma.orginputbali.com

Rabu, 16 Juli 2025

Banten Punjung Sarana Komunikasi Dengan Leluhur




Leluhur menempati tempat yang sangat istimewa pada orang Bali, dalam kehidupannya tak terlepas dengan yang namanya leluhur yang sudah meninggal. Manusia Bali senantiasa menjalin hubungan langsung dengan para leluhur yang sudah meninggal, walaupun tak kelihatan namun hubungan ini dapat dirasakan. Hukum Reinkarnasi, hukum karmapala melatarbelakangi hal tersebut. Bahkan baik buruk perilaku manusia di dunia ini juga akan mempengaruhi kehidupan para leluhur di alam sana.

Secara sekala tak tampak terjadi hubungan langsung dengan leluhur, namun secara niskala, sebenarnya manusia Bali setiap hari menjalin hubungan langsung dengan leluhur yang telah meninggal. Selain menyelanggarakan upacara pitra yadnya dan manusia yadnya secara khusus yang tujuannya untuk penebusan hutang kepada leluhur yang sudah meninggal maupun yang sedang numitis ke dunia, manusia Bali senantiasa menyelenggarakan upacara memunjung di rumah setiap hari. Semeton hindu Bali setiap menghaturkan saiban sebagai ucapan rasa syukur atas berkah Dewata, juga mengharmoniskan hubungan dengan alam semesta.

Disamping itu juga semeton hindu Bali juga setiap hari memunjung, yakni persembahan berupa hidangan kopi jaja, nasi dengan penyertanya. Punjung ini diletakkan di bale delod atau bale dangin atau tenpat khusus yang diperuntukkan memunjung. Biasanya disamping hidangan tersebut dilengkapi juga dengan pecanagan atau pabuan yang berisi seperangkat alat atau bahan nginang, yang terdiri dari base, gambir, buah, pamor, dan mako. Kadang juga dilengkapi dengan rokok. Ini semua sebenarnya adalah untuk dipersemahkan kepada leluhur yang sudah meninggal.

Keyakinan manusia Hindu Bali, bahwa para leluhur akan senantiasa datang mampir dan mengawasi para sentananya.
Untuk itulah sebagai penyambatsara (penyambutan) atau sebagai jamuan bagi para leluhur, manusia Bali menyajikan punjung secara sederhana setiap pagi sehabis memasak. Ini adalah punjung disajikan setiap hari yang sifatnya rutin, diperuntukkan bagi para leluhur yang mungkin datang.

Ada juga punjung yang dipersembahkan pada rerahinan yang sifatnya khusus, lebih istimewa, lebih beragam, dan lebih banyak. Karena dilengkapi dengan kopi, jaja, buah-buahan, dan makanan yang dihidangkan juga lebih lengkap seperti nasi, lauk pauk, kuah, sayur, sambel, sate, dll. Pokoknya lebih lengkap dan istimewa. Punjung ini dihaturkan pada hari rerahinan untuk mempermaklumkan kepada para leluhur bahwa hari ini adalah hari rerahinan.

Bahwa pretisentananya melakukan persembahan kehadapan Ida Betara berupa banten di merajan dan di pura. Dan bersamaan dengan itu para leluhur juga dipersembahkan hidangan dalam bentuk punjung, dengan harapan para leluhur di alam sana mendapatkan kerahayuan dan sekaligus mendoakan agar para pretisentananya yang hidup di dunia ini mendapat kerahayuan juga.

Dalam menghaturkan punjung saat rerahinan sang ibu atau yang menghaturkan akan mesee (berdoa dengan bahasanya sendiri) seperti misalnya “ratu sang pitara-pitari sareng sami sane nuenang driki, titian pretisentana duwene ngaturang punjung, mangda pada ledang rawuh budal ngarsayang, mangda pada ngerastitiang damuh sentana sami mangda rahayu”. Mungkin seperti itu see-nya yang mengharapkan agar para leluhur berkenan hadir pulang untuk menikmati santapan yang mampu dihidangkan oleh pretisentananya, serta leluhur berkenan untuk ngerastitiang atau mendoakan agar para sentananya mendapatkan kerahayuan di dunia ini.

Punjung tersebut juga dilengkapi dengan canang dan dupa sebagai sarana penyucian bahwa agar yang dihaturkan tersebut adalah suci dan untuk mencapai kesucian, termasuk juga kalau misalnya para leluhur yang tak sempat hadir pulang ke rumah, agar sari-sari atau amerta dari punjung tersebut sampai kepada para leluhur semuanya dimanapun berada, sehingga para leluhur menjadi senang dan berkenan.

Pada saat memunjung, leluhur diperlakukan seperti mereka masih hidup. Disediakan base, disuguhi wedang, rokok, kemudian makanan, dan seperadeg (seperangkat) pakaian dalam bentuk rantasan. Demikian juga disediakan air untuk membasuh tangan.
Setelah ritual munjung selesai, pretisentananya yang menghaturkan punjung tersebut ikut menikmati hidangan tersebut yang diistilahkan dengan ngesag punjung, sebagai simbul kebersamaan atau hubungan harmonis antara pretisentananya yang masih hidup dengan yang sudah meninggal, istilahnya makan bersama. Pada saat itulah para leluhur akan merasa senang kepada para sentananya. Seandainya punjung tersebut tak disaag atau tak dinikmati oleh sentananya, maka disebut dengan ngoga.
Para leluhur akan sedih melihatnya, karena sentananya tidak mau dekat dan tak mau bersenang-senang dengan leluhurnya.
Demikian keyakinan manusia Bali terhadap hubungannya dengan leluhur.

Selain punjung harian, punjung rerahinan, juga ada punjung yang dibawa pada hari tertentu kepada saudara yang sudah meninggal namun masih dikubur.
Biasanya dibawakan punjung pada hari rahinan ke kuburan dimana ia dikuburkan. Disana yang membawa pujung kemudian secara bersama-sama menikmati punjung di kuburan. Dan kalau misalnya tak sempat membawa punjung tersebut ke kuburan, maka punjung tersebut dihidangkan di rumah di bale dangin. Dari sini sang pitra dipanggil dengan menyebut namanya, diharapkan untuk bisa pulang sejenak menikmati hidangan punjung yang disuguhkan kepadanya dengan harapan mendapat ketenangan dan kebahagiaan di alam sana.

Ada juga punjung yang diberikan kepada orang yang baru meninggal. Pada saat ia diupacarai ngaben atau di kubur, punjung yang dibuat sangat istimewa dan beragam. Berbagai hidangan makanan, minuman, jaja-jaja, dan raka-raka dihidangkan kepadanya. Punjung ini adalah istimewa, sebagai bekal keberangkatannya ke dunia lain, atau sebagai oleh-oleh kepada para kerabat, teman dan handai taulan yang ditemui di alam sana atau disepanjang perjalanan.

Dari semua itu, punjung merupakan sarana atau media komunikasi antara leluhur dengan pretisentana yang masih hidup di dunia, untuk saling mendoakan agar mendapatkan kesejahteraan di dunia akhirat bagi yang sudah meninggal, dan di mercapada bagi yang masih hidup.

Artinya bahwa manusia Bali dengan keyakinannya tak dapat dipisahkan dengan leluhur, dengan kata lain manusia Bali dengan keyakinannya ia hidup dalam dua dunia.

Sumber & foto
kb.alitmddotcom

KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI

Kisah Perseteruan Majapahit Timur dan Majapahit Barat Dipicu Stempel dari Kaisar China

 

_____________________________________________

___

Kerajaan Majapahit menjalin hubungan dengan Kekaisaran China semasa Raja Hayam Wuruk berkuasa. Hubungan bilateral ini terus berjalan saat Majapahit terbelah menjadi dua timur dan barat. Di Kerajaan Majapahit barat Wikramawardhana tampil sebagai raja masih meneruskan tradisi hubungan baik dengan Kekaisaran China itu. Ketika Cheng Tsu naik tahta sebagai kaisar baru di China juga memberitahukan kepada Raja Wikramawardhana.
Sang Kaisar yang bergelar Yung Lo ini juga sering mengirimkan utusan ke Kerajaan Majapahit. Pada awal masa pemerintahan Kaisar Yung Lo inilah menugaskan Laksamana Cheng Ho yang sangat terkenal dan berulang kali dikirim ke Majapahit. Kaisar Yung Lo memerintah dari tahun 1403 hingga 1424.
Bahkan secara khusus Yung Lo sebagaimana dikisahkan pada "Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit" ia mengirimkan utusan penobatannya sebagai kaisar baru pada 1403 yang disambut dengan pengiriman utusan balasan oleh Wikramawardhana. Utusan balasan ini untuk mengucapkan selamat atas terpilihnya sang kaisar memimpin wilayah Kekaisaran China. Hubungan antara negeri China dan Majapahit makin hari bertambah rapat, lebih-lebih setelah Raja Majapahit Wikramawardhana menerima stempel perak berlapis emas dari Kaisar. Sebagai tanda terima kasih Wikramawardhana mengirim utusan ke negeri China dengan membawa upeti.
Tetapi rupanya kiriman stempel perak berlapis emas itu membangkitkan niat Raja Kerajaan Majapahit bagian Timur untuk juga mengirim utusan ke negeri China dengan membawa upeti. Namun maksud utama pengiriman utusan itu ialah untuk minta stempel sebagai tanda pengakuan resmi dari pihak kaisar. Ternyata permintaan itu dikabulkan, pemberian stempel itu membuktikan bahwa Kaisar Yung Lo memperlakukan Kerajaan Timur sejajar dengan Kerajaan Barat, atau Kerajaan Majapahit utama, sekaligus merupakan pengakuan resmi Kaisar kepada Kerajaan Timur lepas dari kekuasaan Kerajaan Barat.
Hal itu pasti membangkitkan ketidaksenangan pihak Kerajaan Barat. Kemudian timbul ketegangan antara Kerajaan Majapahit Barat dan Kerajaan Majapahit Timur. Sejarah Dinasti Ming menyatakan bahwa raja Kerajaan Majapahit Timur itu bernama Put-ling-ta-ha. Nama itu kiranya ialah transliterasi Cina dari gelar asli Bhre (ng) Daha; suatu bukti bahwa Bhre Wirabhumi benar bergelar Bhre Daha sejak tahun 1371 sepeninggal Bhre Daha Dyah Wiyat Sri Rajadewi. Apa yang dilakukan oleh Kaisar Yung Lo terhadap Kerajaan Timur, sama tepat dengan apa yang dilakukan Kaisar Hung Wu terhadap Suwarnabhumi pada tahun 1376. Tindakan itu merugikan kesatuan Kerajaan Majapahit, karena tindakan itu memecah-belah kesatuan negara Majapahit. Demikianlah bagi Majapahit hubungan dengan China kala itu lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.


Kematian adalah ilusi (māyā)




 Kematian adalah ilusi (māyā), karena tidak ada kematian bagi sang ātma, kita hanya berganti jubah material saja yaitu badan kasar ini. Identitas kita sebenarnya adalah sebagai roh (disebut jīva atau ātma) yang merupakan percikan rohani yang tidak dapat dibinasakan melainkan sebagai esensi yang kekal dan sebagai kesadaran tertinggi.


"Semua makhkuk hidup yang diciptakan tidak berwujud pada awalnya, terwujud pada pertengahan, sekali lagi tidak terwujud pada waktu
dileburkan. Jadi apa yang perlu
disesalkan

Namun ketika seseorang terperangkap dengan alam material ini, sang roh yang ditutupi oleh jubah material berada dalam keadaan terkondisi atau tercemar. Kita melupakan hubungan sejati kita yang tak terpisahkan dengan Tuhan karena kontak material yaitu dengan cara menyamakan diri dengan badan ini.

Ketika seseorang terperangkap dan menyatakan diri sebagai bagian dari komunitas tertentu, itulah ilusi atau māyā, "Saya orang Amerika", "Saya wangsa begini", "Saya beragama Hindu", "Saya adalah brāhmaṇa" — sebuah pamer pertunjukan julukan-julukan material yang tanpa mentalitas bhakti kepada Tuhan hanyalah sajian energi luar Tuhan / māyā.

Tidak ada perlunya mengukur kadar kebahagiaan orang lain karena semua makhluk hidup menderita di alam material ini. Jīva yang dibungkus oleh badan material ini pasti akan mengalami 3 jenis penderitaan rutin, dan tak seorang pun yang lolos dari 3 jenis penderitaan ini walau betapa termasyurnya atau betapa kayanya orang itu dari luar, 3 penderitaan itu adalah:

1). Adhyātmika: penderitaan yang diakibatkan oleh badan atau pikiran sendiri;
2). Adhidaivika: penderitaan yang diakibatkan oleh masyarakat, komunitas, negara dan makhluk hidup lainnya;
3) Adhibautika: penderitaan yang disebabkan oleh gangguan alam seperti gempa bumi, kelaparan, kekeringan, banjir, wabah, dsb.

Jika seseorang menyadari bahwa kehidupannya dijerat oleh 3 jenis penderitaan ini, ia memenuhi syarat untuk mengerti hakikat ātma-tattva ("saya bukanlah badan ini")
.
Penderitaan tersebut dirasakan / timbul karena hubungan indera-indera dengan obyeknya. Dengan kata lain, semua itu muncul karena mempersamakan diri dengan badan.

Via @filsafat_hindu

Kajeng kliwon




Kajeng kliwon adalah peringatan hari turunnya para bhuta untuk mencari orang yang tidak melaksanakan dharma agama dan pada hari ini pula para bhuta muncul menilai manusia yang melaksanakan dharma.

Rerainan Kajeng kliwon diperingati setiap 15 hari sekali yang pada saat itu kita menghaturkan segehan manca warna sebagaimana yang disebutkan dalam mitologi kajeng kliwon. Dalam mitologi tersebut juga dijelaskan maksud dan tujuan menghaturkan segehan manca warna ini yang merupakan perwujudan bhakti dan sradha kita kepada Hyang Siwa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) yang telah mengembalikan (Somya) Sang Tiga Bhucari.

Siapa yang disembah saat kajeng kliwon Berarti dengan segehan tersebut, kita telah mengembalikan keseimbangan alam niskala dari alam bhuta menjadi alam dewa (penuh sinar), sedangkan Sekalanya kita selalu berbuat tri kaya parisuda dan Niskalanya menyomyakan bhuta menjadi dewa dengan harapan dunia ini menjadi seimbang. Sebagaimana dijelaskan pula bahwa, saat malam kajeng kliwon sering dianggap sebagai malam sangkep leak yang pada umumnya sebagaimana disebutkan, pada malam kajeng kliwon ini roh-roh jahat maupun para shakta aji pangliyakan akan berkumpul mengadakan puja bakti bersama untuk memuja Shiva, Durga dan Bhairawi. Hal ini biasanya dilaksanakan di Pura Dalem, Pura Prajapati atau di Kuburan.

Saat kajeng kliwon, dalam babad bali disebutkan agar dapat melaksanakan upacara yadnya yang hampir sama dengan upacara Keliwon biasanya, hanya saja segehan-segehannya bertambah dengan nasi-nasi kepel lima warna, yaitu: merah,putih,hitam,kuning ,brumbunTetabuhannya adalah tuak / arak berem. Di bagian atas, di ambang pintu gerbang (lebuh) harus dihaturkan, canang burat wangi, dan canang yasa. Semuanya itu dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Durgha Dewi. Di bawah / di tanah dihaturkan segehan, dipersembahkan kepada Sang Tiga Bhucari :sang butha bucari,sang kala bucari dan sang durgha bucari.
Sehingga adanya peringatan dan upacara yadnya pada hari kajeng kliwon ini, dengan harapan bahwa baik secara sekala maupun niskala dunia ataupun alam semesta ini tetap menjadi seimbang.


KONSULTASI ATAU PESAN BANTEN KEBUTUHAN UPAKARA WA: 08976687246 ATAU KLIK DISINI