Jumat, 11 Juli 2025

Ida I Dewa Agung Istri Kanya

 



Ida I Dewa Agung Istri Kanya (juga dikenal sebagai Dewa Agung Istri Balemas; meninggal 1868) adalah seorang ratu yang memimpin Bali dari 1814 sampai dengan 1850. Ia juga dikenal dengan panggilan "Ratu Perawan Klungkung."

Dewa Agung Istri Kanya dikenal karena memimpin perlawanan rakyat Klungkung menentang invasi Belanda di Desa Kusamba. Bersama Mangkubumi Dewa Agung Ketut Agung, Dewa Agung Istri Kanya mengarsiteki penyerangan balasan terhadap Belanda di Kusanegara yang berujung pada gugurnya pimpinan ekspedisi Belanda, Mayor Jenderal A.V. Michiels.[4] Dewa Agung Istri Kanya dijuluki Belanda sebagai "wanita besi" karena telah mampu membunuh jenderal Belanda.
Dewa Agung Istri Kanya dikenal menjalani pilihan melajang sepanjang hidupnya. Karena pilihan itu pula dia diberi nama Istri Kanya (kanya berarti melajang atau tidak kawin). Puisi mengenai dirinya, bertajuk "Dewa Agung Istri Kanya", berada dalam buku Feminist Poems oleh Nancy Quinn Collins, diterbitkan tahun 2016.

#bali #baliindonesia #taksu #taksubali #taksu_bali #upakara #bantenbali #canangsari #hindu #hindubali #pura #tradisibali #infobali #infodenpasar 


Jenis jenis kelapa yang sering digunakan dalam upacara Hindu



Salah satu kelapa yang paling sering digunakan dalam rangkaian upacara yaitu kelapa gading, kelapa ini memiliki filosofi yang besar dalam umat hindu, adapun filosofinya yakni:

∆ Bungkak Nyuh Gading sebagai simbol Nyomya kekuatan Sad ripu atau sifat keraksasaan..
∆ Bungkak Nyuh Gading sebagai kekuatan Toya (air) sukla..
∆ Bungkak Nyuh Gading sebagai simbol kekuatan Tirta mahamerta (tirta dewa siwa) ..
∆ Bungkak Nyuh Gading sebagai simbol atau niasa kekuatan dewa Wisnu..

Melihat dari filosopi di atas disimpulkan bawah kelapa adalah simbol dari para dewa,bungkak kelapa nyuh gading biasanya digunakan dalam upacara seperti..

° Upacara manusa yadnya terutama banten durmanggala,pada saat metatah sebagai tempat potongan gigi, sebagai sarana melukat dan lainnya karena sudah dipercayai sebagai simbol kekuatan betara wisnu..
° Upacara rsi yadnya terutama pada banten prayascita
° Upacara Pitra Yadnya terutama pada banten adegan saat upacara ngaben,banten diyus kamalingi.
° Upacara Dewa yadnya, diantaranya pada upakara/banten prayascita, banten mulang dasar Bale, banten mulang dasar bangunan suci.

Selain memiliki makna tersendiri,tentunya jenis kelapa yang digunakan dalam upacara hindu sering berbeda dari jenis lainnya, adapun kelapa tertentu yang sering digunakan dalam upacara hindu...

∆ Nyuh gading yang berwarna kemerahan, sebagai simbol dari Sang Hyang Mahadewa, letaknya di bagian barat dari rangkaian kelapa tersebut, sebagai memohon tirta kundalini...

∆ Nyuh Bulan berwarna putih kekuningan,sebagai simbol Sang Hyang Iswara letaknya di Timur, sebagai sarana memohon Tirta Sanjiwani...

∆ Nyuh Gadang atau Kelapa Hijau,sebagai simbol dari Sang Hyang Wisnu letaknya di utara, sebagai sarana momohon Tirta Kamandalu...

∆ Nyuh Udang berwarna merah,sebagai simbol Sang Hyang Brahma, letaknya diselatan, sebagai simbol memohon Tirta Pawatri...

∆ Sedangkan Nyuh sudamala, simbol Dewa Siwa, letaknya ditengah sebagai simbol memohon Tirta Mahamerta...

Ini salah satu peran kelapa dari upacara hindu, dan bila di kaitkan dengan dunia magis/mistik, maka kelapa sangat memiliki peran magis/mistik,karena secara tidak langsung kelapa melewati sebuah rangkaian upacara telah mengalami berbagai penyucian, penyupatan dan pasupati, sehingga memiliki kekuatan dewata atau energi Positif.

Ini yang menyebabkan kalangan usadawan atau balian kerap kali menggunakan kelapa sebagai sarana pengobatan, karena diyakini kelapa twrsebut telah diberkati para dewa serta mampu untuk mengusir kekuatan negatif.
Apalagi penyakit yang disebabkan oleh ilmu hitam,karena akan melwati penyupatan dari kekuatan dewata yang ada pada nyuh bekas upacara tersebut. 


Dulang adalah simbol Yoni




Dulang adalah simbol Yoni yang biasanya digunakan sebagai alas sampyan soda yang yang merupakan penunggalan Lingga Yoni sebagai simbol kekuatan Hyang Widhi.


Dan dalam pembuatan gebogan dan cane, penggunaan batang pisang ditancapkan diatas dulang yang bermakna sebagai persembahan kepada Tuhan agar pertemuan berjalan dengan lancar.

Dulang banyak ragamnya, salah satunya dalam mengenal makna gebogan dalam tradisi Hindu di Bali, dimana dalam kumparan disebutkan bahwa dulang merupakan sebuah tempat yang terbuat dari bahan kayu.

Mempunyai bentuk bundar, makin ke atas ukurannya makin mengecil. Sementara, pada bagian paling bawah ukurannya sebesar kepala sehingga pas untuk dijunjung.

Maka dari itu bentuk gebogan menjulang seperti gunung, makin ke atas makin mengerucut atau lancip.

Untuk bagian paling atas diletakkan canang dan sampiyan, sebagai wujud persembahan dan bakti kehadapan Tuhan sang pencipta alam semesta.

Sumber: Blog Sejarah Hari Raya Hindu


SEJARAH GEMPA BUMI DI BALI "GEJER BALI" (BALI BERGUNCANG)

 


Foto Tahun : 1917
Koleksi Tropen Museum

Nampak reruntuhan bangunan pada foto yang menggambarkan betapa dahsyatnya gempa bumi pada saat itu yang pernah mengguncang pulau Bali sehingga mebuat banyak rumah,tempat ibadah dll yang luluh lantak.
Berdasarkan catatan sejarah, daerah Bali dan sekitarnya dikenal sebagai daerah yang rawan gempa bumi, Tercatat beberapa kali gempa besar yang menyebabkan korban jiwa dan kerugian harta benda, diantaranya gempa tahun 1917, gempa Seririt (1976), gempa Culik (1979) dan gempa Karangasem (2004).

Pada tahun 1917 gempa bumi dahsyat mengguncang seluruh daratan Bali. Akibat gempa bumi ini tercatat korban tewas 1500 orang. Gempa bumi dikenal sebagai Gejer Bali yang artinya Bali berguncang. Gempa bumi dahsyat yang kedua setelah Gejer Bali adalah Gempa bumi Seririt yang terjadi pada tanggal 14 Juli 1976. Gempa bumi ini berkekuatan 6.2 Skala Richter dengan episentrum di daratan. Gempa bumi Seririt menelan korban tewas sebanyak 559 orang, luka berat 850 orang dan luka ringan 3.200 orang. Dilaporkan juga, hampir 75% dari seluruh bangunan rumah di Tabanan dan Jembrana mengalami kerusakan. Gempa bumi Karangasem pertama (6.0 Skala Richter) terjadi pada tanggal 17 Desember 1979 yang menelan korban tewas sebanyak 25 orang, 47 luka berat. Dampak gempabumi telah meimbulkan puluhan rumah roboh dan ditemukan retakan tanah sepanjang 500 meter.
Gempabumi Karangasem kedua (6.2 Skala Ricter), terjadi pada tanggal 2 Januari 2004 menelan seorang korban tewas dan 33 orang luka-luka. Beberapa daerah yang mengalami kerusakan parah adalah daerah Tenganan, Dauh Tukad, Abang, Tohpati, Muncan, dan Bukit.

(sumber: Daryono, BMKG)
balai3.denpasar.bmkg.go.id/sejarah-gempa-merusak


Lukisan klasik Bali ini berjudul “Rama menembak rusa emas yang di dalamnya tersembunyi raksasa Pati Marica”




 Lukisan klasik Bali ini berjudul “Rama menembak rusa emas yang di dalamnya tersembunyi raksasa Pati Marica”, karya I Dewa Putu Sugi (Soegih). Lukisan ini merupakan bagian dari Koleksi Tropenmuseum dan telah dikembalikan kepada Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada 10 Juli 2023 sebagai bagian dari proses restitusi budaya.

🖼️ Deskripsi Visual dan Konteks Epik
Lukisan bergaya Kamasan/Wayang ini menggambarkan salah satu adegan penting dari epos Ramayana, yaitu:
Rama sedang membidik rusa emas (kijang ajaib) yang sebenarnya adalah penyamaran raksasa Pati Marica, utusan Rahwana.
Latar hutan lebat penuh satwa seperti kijang, monyet, dan burung menjadi simbol ruang spiritual dan sekaligus jebakan ilusi.
Di bagian bawah, Pati Marica digambarkan dengan tubuh besar dan ekspresi licik, memperlihatkan transisinya dari kijang menjadi wujud aslinya.
Adegan ini adalah awal dari penculikan Sita, istri Rama, yang menjadi pusat narasi epik Ramayana dan sangat berpengaruh dalam seni pertunjukan Bali seperti sendratari Ramayana, wayang kulit, dan lukisan klasik.
🌿 Makna Reflektif dan Filosofis
Rusa emas bukan sekadar hewan ajaib, melainkan simbol ilusi duniawi (maya):
Rama, seorang kesatria utama, tetap tergoda oleh keindahan yang palsu demi membahagiakan Sita.
Pati Marica menjadi cermin bahwa kejahatan sering menyamar dalam keindahan, dan uji kesetiaan dan kesabaran dimulai dari gangguan terkecil.
“Dalam kilau emas seekor kijang, terbentang jebakan takdir bagi yang mulia. Dalam anak panah Rama, bukan hanya tubuh yang dibidik, tapi juga awal dari petualangan batin.”
Lukisan ini menyimpan nilai tinggi tidak hanya sebagai karya seni rupa, tetapi juga sebagai arsip visual dari moralitas Hindu-Bali, spiritualitas, dan estetika pewayangan. Sangat cocok digunakan dalam kurasi pameran museum, pendidikan narasi Ramayana, atau ilustrasi nilai-nilai dharma dalam budaya visual Nusantara.


Sabda alam -Om Nama Shiwaya Śiva Sandaran Tertinggi Samsāra dan Sloka Kekal

 


> ēṣa śivaḥ śāśvata ēka ēva
sarvavyāpi sarvabhūtāntarātmā
karta pradhānasya puruṣaḥ purāṇaḥ
saṁsārasyaikaṁ paramaṁ nidhānam
— Ṛgveda, Śiva Saṅkalpa Sūktam, mantra 25
Inilah Śiva, tunggal dan kekal,m
yang meliputi segala dan adalah jiwa dari semua makhluk;
pencipta pradhāna (substansi alam) dan puruṣa (jiwa), yang purba,
Dia adalah satu-satunya sandaran tertinggi dari saṁsāra —
lingkaran kelahiran dan kematian.
🧠 Ulasan Filosofis:
Sloka ini bukan sekadar pujian terhadap Dewa,
melainkan pernyataan filsafat terdalam dalam Weda:
bahwa ada satu asas kekal,
yang meliputi, mendiami, dan mengatur semua fenomena.
Śiva digambarkan sebagai:
Satu dan Kekal (śāśvata eka eva)
Maha Hadir (sarvavyāpi)
Ātman semua makhluk (sarvabhūtāntarātmā)
Pencipta dualitas pradhāna–puruṣa
Dan sebagai satu-satunya pelabuhan dalam samsāra
Ini bukan sekadar Dewa personifikasi,
tetapi hakikat kesadaran yang menopang seluruh alam semesta.
🕯️ Renungan:
Setiap kali kita terseret dalam arus kelahiran, kesedihan, keinginan, dan ketakutan —
ingatlah: ada satu nidhāna — satu tempat kembali yang tak tergoyahkan.
Bukan di luar.
Bukan di surga.
Tapi dalam keheningan terdalam,
tempat Śiva berdiam sebagai diri tertinggimu.
> Bukan tubuh, bukan pikiran, bukan identitas —
tapi kesadaran murni yang selalu ada,
bahkan saat semua lenyap.