Kamis, 14 April 2022

Caru Dalam Pembuatan Bangunan Suci (Kahyangan Tiga, Padma, Meru)

 



Ampura semeton Hindu, sebagaimana dikutip dari Buku Caru dalam Upacara di Bali,...disebutkan bahwa uraian mengenai upacara ini tidaklah begitu banyak bedanya dengan Keputusan Maha Sabha Parisada Hindu Dharma ke II di Denpasar Tahun 1968. Pemakaiannya dapatlah kiranya disesuaikan dengan keadaan.
Untuk pembuatan suatu bangunan suci diperlukan upakara-upakara dan alat-alat sebagai berikut:
2.1. Caru pengeruak”, yaitu “Caru ayam brumbun” lengkap dengan runtutannya dan uripnya adalah 33, serta letaknya “amancadesa” (di timur 5 “tanding”). di Selatan 9 “tanding” di Barat 7 “tanding”, di Utara 4 “tanding”, di Tengah 8 “tanding” beralas sengkwi bersayap sedangkan segehan-agung, kawisan, kulitnya dan lain-lainnya ditaruh di tengah.
a. Byakala” (“byakaon”) “durmangala” dan “prayascita” masing-masing satu buah.
b. Sebuah “segehan-agung” lengkap dengan “penyambleh.
c. Tanten Pemakuhan yang terdiri dari “peras penyeneng”, “ajuman” putih kuning ikannya ayam “betutu”, “maukem-ukem” (di belah dari punggung) “daksina” yang berisi uang 227 “canang lenge wangi-buratwangi”, “canang satu tanding raka nyahnyah gula kelapa” dan tipat kelanan. Banten ini ditaruh di sebuah “sanggar” yang ada di hulu dari bangunan yang akan dibuat (diluanan).
d. Banten untuk “dasar bangbang” adalah “tumpeng” merah dua buah, dilengkapi dengan jajan, buah-buahan, lauk-pauk dengan ikannya “ayam biying” yang dipanggang, “sampiannya/sampian tangga”. Banten ini dialasi dengan “kulit peras”.
e. “Canang-Pendeman” adalah “canang burat-wangi”, pengeraos “canang-tubungan”, dan “pesucian”, masing-masing satu “tanding.
f. Alat “penyujug” terdiri dari sebuah cabang dadap yang bercabang tiga, sebuah mangkuk kecil, cincin bermata mirah dan kalau mungkin sebuah keris.
g. Untuk bangunan yang berupa “pelinggih” yang besar-besar, dipakai batu dengan tulisan aksara. Sebuah batu merah, yang berisi gambar “bedawangnala” di punggungnya diisi tulisan “Ang-kara”.
h. Sebuah batu merah yang lain, diisi gambar “padma” disertai dengan tulisan “dasaaksara” (di luar 8 huruf, dan ditengah 2 huruf yang dimaksud dengan “dasa-aksara” adalah Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya.




i. Sebuah “batu bulitan” (batu yang hitam) diisi dengan tulisan 'Triaksara” yaitu ANG, UNG, MANG.
j. Sebuah “kelungah” berisi tulisan “Ong-kara”. Kalau dapat dipakai “kelungah kelapa gading”. “Kelungah” itu “dikasturi”, airnya dibuang, lalu ke dalamnya dimasukkan wangi-wangian seperti lengawangi”, “burat-wangi” “menyan” dan sebagainya, serta sebuah “kewangen” “keraras” (daun pisang yang sudah tua) yang berisi uang 11 kepeng; “kelungah” beserta perlengkapannya dibungkus dengan kain putih diikat dengan benang merah, putih, hitam dan kuning, lalu dipuncaknya diisi sebuah kewangen yang berisi uang 33.
k. Sebuah “kewangen” yang berisi tulisan “ONGKARA MERTA” dengan uangnya 11 kepeng.
l. Alat persembahyangan lengkap dengan “kewangen” dan dupa.
m. Tata Pelaksanaan upacara dan susunan dasarnya.
Terlebih dahulu dilakukan upacara Ngeruak dengan upacara caru Pengeruak lalu menghaturkan banten Durmengala dan prayascita ke hadapan Sang Bhuta Buwana, dilanjutkan dengan menghaturkan segehan-agung, ke hadapan Sang Bhuta Dengen.
Mantranya:
Pakulun Sang Kala Nungkurat, Sang Kala Tahun, Sang Kala Badawang jenar, Sang Kala Durmerana, Sang Kala Wisesa makadi sira ranini Bhatari Durga den suka anadah caru aturane mami. Om sampurna ya namah svaha.
Kemudian halaman dan tempat-tempat bangunan yang direncanakan diukur menurut “asta bumi” dilanjutkan dengan menggali lubang (bangbang). Setelah lubang itu dianggap selesai digali, lalu diupakarai dengan “byakala”, “durmengala” dan “prayascita”, selanjutnya diukur dalamnya (jugjugin, dikeruk, serta disapu dengan cincin tadi).
Para penyungsung bangunan itu lalu bersembahyang di depan lubang itu yaitu ke hadapan “ibu pertiwi” (Sanghyang lemah), “Sanghyang Bayu” dan “Sanghyang Anantaboga”. Bunga dibuang ke bangbang tadi, diganti dengan yang baru, bersembahyang ke hadapan “Sanghyang Akasa”, “Sanghyang Siwa”. Sanghyang Bhuwana Kemulan” dan Sanghyang Prajapati”. Bunga dibuang ke dalam lubang sebagai dasar dari bangunan tersebut. Selanjutnya di atas bunga-bunga itu ditaruhlah “tumpeng merah” yang berisi ikan ayam “biying” (sub. e) kemudian ditindihi dengan bata-merah” yang berisi gambar “Bedawangnala” (sub. h) disusuni kelungah kelapa gading yang dibungkus dengan kain putih (sub. k), lalu ditimbuni sedikit (supaya agak rata). Di atasnya disusuni dengan bata merah yang berisi gambar padma serta tulisan “Dasa-aksara” (sub. i), kemudian disusuni batu bulitan yang berisi tulisan “triaksara”. Di atasnya diisi “kewangen” yang berisi tulisan “Ongkara-amerta”. Disertai Tanang pendeman” (sub. 1 dan f) dan akhirnya ditimbuni sampai rata, lalu dilanjutkan dengan pembangunan seterusnya.
1. Untuk bangunan yang kecil-kecil “batu-dasarnya” dapatlah disederhanakan yaitu:
Sebuah bata merah berisi gambar “bedawang-nala”, dan sebuah “kewangen” yang berisi uang 11 kepeng, dilengkapi dengan “burat-wangi”, “canang-sari”, “mereka” “nyahnyah” “gula kelapa”, “kekiping”, “pisang mas”, dan “porosannya” adalah “base tubungan putih hijau mererepe” (tangkai sirih itu dibiarkan), (bila tidak ada bata-merah, dapat diganti dengan “paras”).
Catatan
Setelah bangunan itu selesai lalu diupakarai dengan “durmengala”; “prayascita”, “pengambyan”, “solasan ketengan 22 tanding, “tumpeng guru”, ikannya itik putih diguling, “tumpeng putih kuning” “tipat kelanan”, “daksina” dan canang pesucian” selengkapnya “burat wangi” serta “suci” satu “soroh”.
Dengan demikian bangunan itu baru dapat dihatur “canang” dan “daksina” selengkapnya. Upacara selanjutnya adalah “upacara Melaspas”, “Mepedagingan”, “ngenteg” dan seterusnya. Upacara-upacara ini (“Melaspas”, “mepedagingan” dan sebagainya) sebenarnya termasuk upacara “Dewa-yadnya”, oleh karenanya dalam tulisan ini tidak diuraikan secara mendetail.
Catatan:
Pada pohon kayu yang akan diupacarai diberi kain “caniga”, “gantung-gantungan”, dan sasap dari janur,untuk hal tersebut biasanya dipilih pohon kayu yang dianggap paling berguna di dalam rumah tangga seperti kelapa, wani dan sebagainya.

Makna Suara Letupan Bambu atau Tetimpungan Saat Pernikahan

 



Dalam rangkaian upacara Pawiwahan (Pernikahan) adat Hindu, ada tiga buah bambu yang dibakar hingga meletup yang disebut Tetimpugan. Sejatinya, apa makna dan fungsi Tetimpugan?
Pernikahan merupakan saat saat yang paling dinanti. Fase Grahasta dalam ajaran Catur Asrama ini haruslah dilaksanakan sesuai tata cara yang benar. Itulah sebabnya, upacara Madengen-dengen atau Makala-kalaan yang memiliki makna dan tujuan membersihkan dan menyucikan merupakan bagian terpenting dalam rangkaian upacara pernikahan adat Bali. Dalam rangkaian upacara Pawiwahan terdapat tiga buah bambu yang dibakar dan meletup yang disebut Tetimpugan.
Tetimpug merupakan sarana yang juga dipergunakan dalam upacara Makala-kalaan.
Pemangku asal Desa Keramas, Jero Mangku Made Puspa, mengatakan, Tetimpugan erat kaitannya dengan Bhatara Brahma yang disimbolkan sebagai api. Sarana yang digunakan untuk memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma dalam upacara yadnya umumnya disimbolkan dengan bambu tiga batang yang dibakar dengan api danyuh kelapa, ujar Mangku Made Puspa.
Dikatakannya, Tetimpug umumnya berupa tiga buah bumbu mentah yang masih ada kedua ruasnya. Lalu diberi minyak kelapa kemudian diberi sasap yang terbuat dari janur. Biasanya bambu ini, akan dibakar sebelum memulai upacara, sehingga terdengar bunyi letusan tiga kali.
Di Gianyar, dalam rangkaian upacara Pawiwahan, membunyikan Tetimpugan justru merupakan saat yang ditunggu tunggu. Konon, katanya jika Tetimpugan itu berbunyi lebih dari tiga kali, maka pasangan tersebut akan dikaruniai banyak anak. Jika kurang dari tiga kali letupan, kami khawatir mungkin ada kekurangan dalam bantennya, ujar Jero Mangku Made Puspa.



Dalam upacara Bykala (wiwaha), lanjutnya, sudah terkandung tiga macam saksi yang dikenal dengan istilah Tri Upasaksi (tiga saksi), yaitu Dewa Saksi, Manusa Saksi, dan Bhuta Saksi. Dewa Saksi adalah saksi Dewa ( Ida Hyang Widhi Wasa) yang dimohonkan untuk menyaksikan Pawiwahan tersebut. Manusa Saksi adalah semua orang yang datang menghadiri Pawiwahan tersebut dapat dikatakan sebagai saksi, utamanya Bendesa, Kelian Dinas, pemangku yang muput upacara tersebut dan lainnya. Saksi dari para Bhutakala disebut dengan Bhuta Saksi.
Tetimpugan dikatakan sebagai rangkaian dari Bhuta Saksi. Kita membakar Tetimpug, sehingga menimbulkan suara letupan. Suara letupan tersebut merupakan simbol untuk memanggil Bhutakala agar hadir pada upacara tersebut. Kemudian diberikan suguhan supaya tidak menggangu jalannya upacara, ungkap Jero Mangku Made Puspa.
Ditegaskannya, perkawinan di Bali dianggap belum sah, jika tidak disaksikan oleh Tri Upasaksi.
Dalam Wiwaha Samsara, Tri Upasaksi adalah tiga saksi yang dihadirkan untuk menyaksikan rangkaian upacara Pawiwahan, yaitu Dewa Saksi, Manusia Saksi, dan Bhuta Saksi.
Dewa saksi biasanya dalam bentuk upakara dan bebantenan. Dewa saksi, meliputi upakara dan upacara perkawinan kedua mempelai, yang dipuput oleh pedanda, ujarnya. Sedangkan Manusia Saksi umumnya diwakilkan oleh bendesa adat serta prajuru desa. Bhuta Saksi biasanya disimbolkan dengan upacara yang dibuatkan untuk kedua mempelai, sebagai wujud menetralisasi Sapta Timira, tandasnya.
Ditambahkannya, dalam Wiwaha Samskara disebutkan, Tetimpug berfungsi sebagai alat komunikasi, baik niskala maupun sakala. Secara niskala, Tetimpug berfungsi untuk memberitahukan Bhutakala yang akan mendapat persembahan, bahwa upacara Makala-kalaan segera dimulai. Secara sekala, Tetimpug juga mempunyai fungsi untuk memberitahukan kepada warga sekitar bahwa upacara Makala-kalaan segera dimulai.
Tetimpug tidak hanya digunakan dalam upacara pernikahan, tetapi juga digunakan dalam rangkaian upacara lain, seperti Padudusan, Pacaruan Rsi Gana, Labuh Gentuh, dan pacaruan lainnya. Tetimpugan itu fungsinya sangat vital. Bahkan, dalam berbagai kegiatan upakara, Tetimpugan sering digunakan. Ngodalin, Macaru pasti ada Tetimpug, ungkapnya.
Pemangku Pura Masceti ini mengungkapkan, baiknya menggunakan bambu dengan jumlah ganjil. Seharusnya berjumlah ganjil, di mana ruas bambu yang berjumlah ganjil juga. Tiga buah bambu Tetimpug melambangkan Tri Kona, yaitu utpeti, stiti, dan pralina,” terangnya. Jika yang menggunakan lima buah Tetimpug, upacara caru tersebut sudah berada dalam tingkatan yang lebih besar, seperti karya agung. Hal tersebut melambangkan Panca Mahabhuta, yaitu pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa.
Diakuinya, penjelasan Tetimpug seringkali berbeda beda, sesuai desa kala patranya. Jika di daerah Ubud, Tetimpug dikatakan sebagai sarana untuk mengundang kekuatan sebagai pelaksana sebuah upacara yadnya, paparnya.
Konon, tetimpug menjadi sarana pengundang tenaga dan waktu agar harmonis. Jika Tetimpug tidak bersuara, maka kala itu tidak datang. Begitu juga sebaliknya, jika bersuara, kala itu datang dan merasa terpanggil, tandasnya.

Bebangkit

 


Pengakulan

 


Di sesenden: beras acatu/semangkok, 11 iris buah pinang, 11 base megulung, 11 kojong mako, 2 telor ayam mentah

Pengadangadang

 



Tamas, 2 raka, 2 ceper kiri isi 3 tumpeng, takir toge
Kanan 2 tumpeng, takir lud
Celemik misi baas n benang kuning, celemik ketan n benang putih, celemik injin n benang item, celemik baas barak n benang barak,
Celemik tuali, jali2, saga2, ares n bayam, batun asem, buah beluluk, oot n dagdag, jijih,
matah2 keluarin isinya letakkan di teben, coblong carat, katik misi kain, sampat, peselan ambengan n gelagah, pesel peselan, 2 sampyan lasang

KONSEP CATUR LOKA PALA (CATUR DALA)

 



Kepercayaan Agama Hindu khususnya di Bali, Gunung di pandang sebagai sesuatu yang sangat suci, karena gunung merupakan tempat yang diyakini bersemayamnya para Dewa dan para leluhur. Kepercayaan terhadap gunung dapat dilihat dalam konsep ajaran Catur Dala atau konsep Catur Loka Pala yaitu empat arah mata angin yang di tempati oleh gunung. Salah satunya adalah arah timur terdapat Gunung Lempuyang, arah barat terdapat Gunung Watukaru, arah utara terdapat Gunung Puncak Mangu dan arah selatan terdapat Gunung Andakasa.
Dalam konsep ruang, konsepsi Catur Loka Pala menitik beratkan kepada esensi keseimbangan unsur semesta dengan merepresentasi arah mata angin. Selain sebagai konsep arsitektur, dalam Padma Bhuwana Tattwa, konsep Catur Loka Pala disebut-sebut sebagai konsep pemujaan terhadap Tuhan.
Konsep ini menitik beratkan tujuan pemujaan Tuhan sebagai pelindung dan menjaga rasa aman (raksanam). Catur Loka Pala merupakan simbolisasi dari empat arah mata angin yang utama seperti :
· purwa (timur),
· daksina (selatan),
· pascima (barat), dan
· uttara (utara)
Konsep Catur Loka Pala dalam Lontar Usana Bali :
“kunang malih. Iti katuturaning usana Bali, nga cinarita tingkahing Bhumi Bali, hana gunung loka pala, nghing tingkah ing gunung ika amarah pat, lwire: maring purwa, Gunung Lempuyang, nga, pangsthana ida bhatara aghnijaya, maring paccima gunung Bratan, nga, pangasthana ida bhatara watukaru, maring utara gunung mangu, nga, pangashtanan ida hyang dhanawa, maring daksina maring gunung andakasa, nga, pangsthana ida hyanging tugu.
Arti bebasnya:
Inilah keterangan dari Usana Bali, menceritakan keadaan bumi Bali,ada gunung catur Lokapala (empat penaga daratan) namanya, akan tetapai letak gunung itu empat penjuru, yaitu di timur Gunung Lempuyang namanya, sthana bhatara Agnijaya,di barat Gunung Bharatan namanya, sthana Bhatara Watukaru. di utara Gunung Mangu namanya,stana Hyang Dhanawa, di selatan Gunung Andakasa namanya sthana Shangyang Tugu.

Keempat penaga daratan ini dimaknai sebagai wujud pelindung alam semesta. Dengan kata lain, perlindungan Ida Sanghyang Widhi dengan segala aspek manifestasiNya tercermin dalam ruang gerak arah mata angin nyatur desa.
Dengan demikian, Catur Loka Pala dalam pengertiannya sebagai empat hal yang menjadi pelindung alam semesta, di Bali diwujudkan dengan simbol empat pura yaitu :
1. Pura Lempuyang, tempat memuja Tuhan di arah timur (purwa), ᬲᬁ, Sang
2. Pura Luhur Batukaru, tempat memuja Tuhan di arah barat (pascima), ᬢᬁ¸, Tang
3. Pura Andakasa, tempat memuja Tuhandi arah selatan (daksina), ᬩᬁ¸, Bang
4. Pura Puncak Mangu, tempat memuja Tuhan di arah utara (uttara). ᬅᬁ, Ang
Konsepsi Catur Loka Pala memiliki keterkaitan dengan Cadu sakti. Secara etimologis, Cadu sakti berasal dari kata “cadu” dan “sakti”. “Cadu” berarti empat dan “sakti” berarti kekuatan atau kemahakuasaan. Jadi Cadu Sakti adalah empat kekuatan atau kemahakuasaan ida sang hyang widhi wasa. Keempat kekuatan atau kemahakuasaan yang dimaksud, yaitu :
1. Prabu sakti : sang hyang widhi bersifat maha kuasa, menguasai jagat.
2. Wibhu sakti : sang hyang widhi bersifat maha ada meresap dan meliputi seluruh jagat.
3. Jnana sakti : sang hyang widhi bersifat maha tau, mengetahui seglaa perbuatan kita.
4. Kriya sakti : sifat sang hyang widhi maha karya, berbuat apa saja yang dikehendaki.
Semoga berkenan, kurang lebihnya mohon dimaklumi… šŸ™
Sesuatu dikatakan rahasia karena pengetahuan yang kita miliki sangatlah sedikit,dibandingkan maha luasnya alam semesta dan misteri yang tersembunyi didalamnya. Sepanjang hidup kita belajar tak akan mampu memahami kehidupan ini. Semoga Tuhan selalu memberi bimbingan, tuntunan, bantuan, menunjukkan jalan yang terang dan perlindungan kepada kita semua, karena sumber dari segala sumber kehidupan adalah milik-NYA.
Rahayu… šŸ™ šŸ™ šŸ™
Reference
1. Latar Gambar dan musik : https://www.google.com/ , Gong gede isi dps dan kidung Ida Rsi Lokanatha – Catur Dewa Maha Sakti
2. yadawainstitute..2013. Kahyangan Jagat Berdasarkan Konsep Catur Loka Pala
3. Santa Adnyana, I Wayan. 2007. Pura Lempuyang Suatu Analisis Pendidikan Religius Filosofis , Tesis Program Studi Magister (S2) Fakultas Dharma Acarya Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.


Panca Genta

 



Bentuk “Panca Genta” adalah 5 (lima) buah benda sakral yang memiliki bentuk yang berbeda-beda seperti Genta Padma, Genta Uter dan Genta Orag memiliki bentuk yang agak mirip, Katipluk berbentuk seperti gendang dan Sungu atau Sangka dibentuk dari kulit kerang besar sebagai terompet. Tetapi ke lima itu memiliki fungsi yang sama saat pelaksanaan Upacara Bhuta Yadnya.
“Panca Genta” adalah Agem-ageman Wajib bagi Ida Rsi Bhujangga Waisnawa. “Panca Genta” tersebut adalah alat yang dipergunakan dalam pelaksanaan untuk menyelesaikan atau “muput” Bhuta Yadnya. Kewajiban sebagai Agem-ageman diperkuat lagi dengan isi beberapa Lontar, seperti Lontar Iti Siwa Lingga, Lontar Tutur Dangdang Bungalan, Lontar Aji Janantaka, Lontar Resi Wesnawa, Lontar Tutur Lebur Sangsa dan beberapa lontar lainnya, seperti di bawah ini.
Dalam Lontar Iti Siwa Linggga (1-3) menyebutkan :
….Iti Siwa Lingga nga. penerusan kadi ring arep, mwah katekaning mangke, tan wenang margiang pwa sira, apan ika rumaga bayu, sabda, idep, muang tutur manon nga. ika Siwa makewenang siwi akena ring wong ika ring Bali nga : sahananing magama tirtha ring Bali kabeh, maka wenang nyiwi terah turunan Ida Budha Mahayana, Siwa Pasupati, Ida Siwa Waisnawa nga. iki Siwa Trini linggih ngaskara dewa miwah ngentas pitra mekadi merayascita jagat pada wenang nga.
Malih tedesing agama, nga. anak Budha Mahayana, nga. Budha Hina, anakSiwa Pasupati nga. Ida Siwa, anak Ida Siwa Waisnawa, Ida Rsi Waisnawa nga. pada-pada kasungan raja pinulah maka Trini nga. apan ika metu saking angganira sedaya, nga. Wekasan Rsi Waisnawa punika kang sinanggeh, Sangguhu Bhujangga nga. antuk warna tunggal, agem tunggal, antuk suara-suara kekalih, Ida Siwa, Ida Bodha. Malih tetesing agama Siwa, Bodha, Sangguhu Bhujangga nga. sami Sang Trini linggih, wenang ngaskara, dewa, pada wenang pwa sira, muah angreka wenang, wiyaktiniya mzring rupit …… (Lontar Iti Siwa Lingga 1-3, dalam Made Gambar Ketatwaning Tukang Banten. Hal.9).
Terjemahan bebasnya :
……demikianlah yang dimaksud Siwa Lingga namanya, kelanjutan dari yang di depan , dan sampai sekarang, tidak boleh dilaksanakan itu, oleh karena (itu) penjelmaan dari “bayu”, “sabda”, “idep” dan “tutur” yang nyata, Siwa Lingga itu hendaknya dihormatioleh orang-orang di Bali yang beragama Tirtha (Hindu), sudah sepatutnya menghormati keturunan Budha Mahayana, Siwa Pasupati, dan Ida Siwa Waisnawa, beliau semua berkedudukan sebagai “Siwa Trini”, dan memiliki kewenangan dalam hal “ngaskara dewa”, “ngentas pitra”, termasuk juga “merayascita”(membersihkan/ menyucikan/ mecaru) meruwat bumi.


Demikian pula ajaran agama menegaskan bahwa keturunan Budha Mahayana adalah Budha Hina, keturunan Siwa Pasupati adalah Ida Siwa, keturunan Ida Siwa Waisnawa adalah Ida Rsi Waisnawa, ketiganya samasama dianugerahi kewenangan, oleh karena semuanya lahir dari “raga”beliau (Tuhan). Selanjutnya Rsi Waisnawa ini juga disebut Sangguhu (Sang + Guhu) Bhujangga, warnanya tersendiri, “agem” tersendiri, demikian pula ucapan-ucapan dengan yang dua lainnya seperti Ida Siwa dan Ida Bodha. Lagi tambahan petunjuk agama, Siwa, Bodha, Sangguhu Bhujangga semuanya berkedudukan sebagai “Sang Trini”, berhak ngaskara dewa, semuanya sama-sama berhak, demikian pula “angreka”, sesungguhnya dari suatu yang sangat rumit………. .
Dari paparan Lontar Iti Siwa Lingga di atas, jelas menyebutkan tentang kewajiban dari Ida Rsi Bhujangga Waisnawa, serta memiliki “agem-ageman” tersendiri yang merupakan “agem-ageman wajib”, yaitu salah satunya berupa penggunaan Panca Genta. Hal ini sangat jelas, dan dipaparkan dalam beberapa lontar antara lain Lontar Eka Pratama, Lontar Aji Janantaka dan lain sebagainya yang menyebutkan tentang Panca Genta sebagai senjata atau agem-ageman Ida Rsi Bhujangga Waisnawa. Misalnya dalam Lontar Aji Janantaka (16.b-17.a) menyebutkan tentang Panca Genta, dan dalam isi Lontar ini dengan jelas berbunyi sebagai berikut :
……raris kasunggi Ida Bhujangga Alit, tur kiniring wong kabeh sepanengakena saksana dateng ring salu-panjang, tur kalinggihang angayoning banten akeh, tur sregep ikang siwa-krana, saha sarwa sanjata kabeh, genta-wuter, gentaa-padma, genta-orag, genta-katipluk, gentasangka, saha sarwa weda, tegep sarwa pangruwat letuhing jagat kabeh…..(Lontar Aji Janantaka. 16.b-17.a)
Terjemahan bebas :
…..lalu diboponglah Ida Bhujangga Alit, lalu di antar oleh banyak orang dan tiba di rumah atau balai panjang, dan duduk menghadapi banten(upakara) banyak, serta lengkap dengan Siwa Upakarana (alat pemujaan), serta lengkap dengan alat-alat perlengkapan untuk melaksanakan upacara, genta-uter, genta-padma, genta-orag, genta-katipluk (damaru), gentasangka (sungu), serta mantra-mantra weda siap untuk membersihkan atau meruwat bimi ini……….)
,Dalam Lontar Aji Janantaka ini jelas sekali menyebutkan alat atau senjata yang digunakan sebagai “agem-ageman wajib” oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa di dalam “muput” Bhuta Yadnya adalah Panca Genta yang terdiri dari : Genta Uter, Genta Padma, Genta Orag, Genta Katipluk (Damaru) dan Genta Sungu atau Sangka, serta mantra-mantra Weda untuk meruwat bumi.
Fungsi “Panca Genta” adalah menghubungkan secara spritual antara para Sadhaka dengan para Dewa-Dewa, juga menarik dan mengumpulkan roh-roh alam bawah seperti setan, tonya, memedi, bhuta kala, dan roh-roh yang mengganggu alam ini, untuk dibersihkan, dan berfungsi untuk “Nyomya” atau meng inisiasi para roh-roh jahat dan roh alam bawah, agar sifat Bhuta berubah menjadi sifat Dewa.
Makna philosofis “Panca Genta” adalah sebagai schok therapy untuk bisa membangkitkan roh-roh astral agar tertarik berkumpul, dan dengan suaranya yang riuh dan khas membuat roh-roh alam bawah dan yang bersifat negatif tertarik untuk muncul sehingga mudah di “Somya”.atau dirubah dari Bhuta menjadi Dewa. Disamping itu Panca Genta memiliki makna sebagai tanda atau “tetenger” bahwa upacara Bhuta Yadnya sudah dimulai serta sebagai alat konsentrasi bahwa tujuan Upacara Bhuta Yadnya tersebut adalah untuk “Nyomya” Bhuta.
Rahayu…šŸ™☺šŸ™
Reference
2. Dauh, I Wayan, Anak Agung Gede Dira. 2020. PANCA GENTA AGEM-AGEMAN IDA RSI BHUJANGGA WAISNAWA PADA UPACARA BHUTA YADNYA. Vidya Wertta Volume 3 Nomor 2 Tahun 2020. Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya Universitas Hindu Indonesia