Di Bali, membangun rumah bukan hanya urusan fisik, melainkan proses sakral yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual. Salah satu konsep penting dalam hal ini adalah **"bikin rumah sikut satak"**, yaitu membangun rumah dengan ukuran pekarangan ideal menurut perhitungan tradisional yang disebut **sikut satak**. Konsep ini bersumber dari lontar kuno **Asta Kosala Kosali** (dan Asta Bhumi), pedoman utama arsitektur Bali yang mengatur tata letak, ukuran, serta ritual pembangunan agar membawa kerahayuan (kesejahteraan) bagi penghuni.
**Sikut satak** artinya ukuran pekarangan yang ideal atau proporsional dalam sistem tradisional Bali. Pada zaman dulu, masyarakat Bali mengenal berbagai tingkatan ukuran seperti sikut satak, sikut domas, dan lainnya. Sikut satak biasanya merujuk pada pekarangan luas yang melebihi 4 are (sekitar >400 m² dalam ukuran modern), di mana tata letak bangunan dihitung dengan presisi menggunakan satuan antropometris seperti **tapak** (telapak kaki), **depa** (rentang tangan), **agemel** (genggaman), serta **anguli** (ruas jari). Ukuran ini tidak baku seperti meter, melainkan disesuaikan dengan tubuh kepala keluarga atau pemilik, sehingga setiap rumah memiliki proporsi unik yang harmonis dengan buana alit (mikrokosmos manusia) dan buana agung (makrokosmos alam semesta).
Dalam Asta Kosala Kosali, sikut satak sering digunakan untuk menentukan posisi bangunan utama seperti **sedahan karang** (penunggun karang atau tugu karang) di pekarangan luas. Salah satu contoh perhitungan klasik adalah:
> "Untuk pekarangan yang luas (sikut satak), melebihi 4 are atau sudah masuk perhitungan 'sikut satak', posisi Sedahan Karang dihitung dengan: dari utara menuju Kala (7 tapak kaki) dan dari sisi barat menuju Yama (4 tapak)."
**Bunyi asli dalam lontar (kutipan umum dari referensi Asta Kosala Kosali terkait sikut dan posisi):**
"yan nadpe anwoŋ lyan tan yunaŋ ŋāŋgen ñikut, tiŋkahiŋ ñikut patunain danneh, mariŋ purwwa amuśti, kaŋ adruwe umah..."
**Artinya secara garis besar:**
"Jika ingin membangun rumah dengan ukuran yang benar, jangan mengikuti ukuran orang lain, gunakan sikut milik sendiri (pemilik rumah), tambahkan pengurip (ukuran tambahan suci), hitung dari arah purwa (timur) dengan amusti (genggaman), agar rumah tersebut memberikan kebaikan dan tidak mendatangkan ala (malapetaka)."
Kutipan ini menekankan pentingnya menggunakan **sikut pribadi** (sikut watak/awake) agar sesuai dengan energi pemilik, bukan meniru orang lain. Jika ukuran salah, dipercaya bisa mendatangkan ketidakseimbangan, seperti sakit berkepanjangan atau kesulitan rezeki.
Pekarangan sikut satak biasanya dibagi menjadi 9 bagian (sanga mandala) sesuai Nawa Sanga (9 arah mata angin), dengan posisi hierarkis: **nista** (bagian kaki/kotor seperti angkul-angkul dan kamar mandi), **madya** (tengah/ natah halaman), dan **utama** (kepala/suci seperti sanggah atau bale daja). Bangunan seperti bale daja, bale dangin, bale dauh, paon (dapur), dan sumur ditempatkan dengan perhitungan **asta wara** (Sri, Indra, Guru, Yama, Rudra, Brahma, Kala, Uma) untuk menghindari pengaruh negatif.
Di era modern, sikut satak masih relevan meski tanah semakin terbatas. Banyak undagi (arsitek tradisional) mengadaptasinya secara fleksibel agar tetap menjaga esensi harmoni Tri Hita Karana (keseimbangan dengan Tuhan, sesama, dan alam). Konsep ini bukan sekadar ukuran, melainkan filosofi hidup: rumah yang dibangun dengan benar menjadi microkosmos yang mendukung kebahagiaan penghuni.
Dengan mengikuti sikut satak sesuai Asta Kosala Kosali, rumah Bali bukan hanya tempat tinggal, tapi wadah spiritual yang hidup.
.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar