Om Awighnam Astu Namah Sidham.
Semeton, Bhakta Hindu Dharma yang saya muliakan,
masih bersama Ida Bhawati I Nyoman Jana dalam Ngopi — Ngobrol Pintar tentang
PaƱca ÅraddhÄ, lima keyakinan yang menjadi napas kehidupan rohani seorang Bhakta.
Kadang kita lupa, ÅraddhÄ bukanlah hafalan,
tetapi getaran yang menghidupkan seluruh gerak kehidupan.
Ia seperti lima unsur alam yang menjaga keseimbangan diri dan semesta.
Tanpa ÅraddhÄ, hidup menjadi hampa — sibuk, namun tak bermakna.

1. ÅRADDHÄ: KEYAKINAN YANG HIDUP, BUKAN SEKADAR PERCAYA
> į¹gveda X.151.4
“ÅraddhayÄ havyam ÄÅate.”
“Dengan keyakinan, manusia mempersembahkan yajƱa kepada Tuhan.”
Keyakinan sejati tidak lahir dari doktrin,
melainkan dari kesadaran yang terbukti dalam perilaku.
ÅraddhÄ adalah yajƱa batin — persembahan kepercayaan murni dari hati kepada Brahman.
Dalam kehidupan modern, ÅraddhÄ tampak ketika Bhakta tetap jujur walau tak diawasi, tetap sabar walau diuji, tetap lembut walau disakiti,
dan tetap berdoa walau dunia tampak bising.

2. BRAHMAN: SATU CAHAYA, SERIBU NAMA
> Yajurveda 32.3
“Ekam evÄdvitÄ«yam.”
“Dia satu, tiada duanya.”
Brahman bukan hanya Tuhan di langit,
tetapi kesadaran yang berdenyut di daun, di air, di napas, bahkan di diamnya pikiran.
Dalam Lontar Tutur Gama Tirta disebut:
> “Brahma ring sarwa bhuta, sira hana ring angga.”
“Brahman hadir di seluruh makhluk, juga di dalam diri.”
Semeton, di era modern, Bhakta memuja Brahman dengan menyucikan pekerjaan,
menghargai manusia tanpa memandang suku, dan merawat bumi sebagai tubuh Brahman itu sendiri.

3. ÄTMAN: KEHADIRAN SUCI DI DALAM DIRI
> ChÄndogya Upaniį¹£ad 6.8.7
“Tat tvam asi.”
“Engkau adalah itu (Brahman).”
Ätman bukanlah bayangan, melainkan sinar Brahman yang menuntun dari dalam.
Mengetahui Ätman berarti menemukan arah hidup yang tak lagi goyah.
Dalam Lontar Kawi Tatwa disebutkan:
> “Sapa wruh ring atma, wruh ring hyang.”
“Barang siapa mengenal jiwa, ia mengenal Tuhan.”
Maka Bhakta di masa kini tak lagi mencari Tuhan ke luar,
tetapi menjaga pikirannya tetap suci agar Ätman berbicara melalui kebijaksanaan.

4. KARMA PHALA: KEADILAN YANG TAK PERLU DIAKUI
> Rigveda X.135.1
“YathÄ karma yathÄ Årutam.”
“Sesuai perbuatannya, demikianlah hasil yang diterima.”
Karma bukan ancaman,
melainkan hukum alam yang penuh kasih. Setiap ucapan, pikiran, dan tindakan adalah benih yang suatu hari akan tumbuh.
Dalam Lontar Dharma Pamacul disebutkan:
> “Yan hana dharma, tumuwuh rahayu.”
“Jika Dharma ditegakkan, keselamatan tumbuh.”
Jadi, karma baik bukan untuk pahala,
tetapi untuk menumbuhkan rahayu — ketenangan dan keseimbangan hidup.
Di era digital, Bhakta bisa menanam karma baik dengan berbagi ilmu,
menyebarkan kata yang menenangkan, dan menjaga kebenaran di ruang maya.

5. PUNARBHAVA: KESEMPATAN UNTUK MENYEMPURNAKAN DIRI
> Bį¹hadÄraį¹yaka Upaniį¹£ad 4.4.5
“YathÄ karma yathÄ Årutam punar eti.”
“Sesuai dengan perbuatan dan pengetahuannya, jiwa lahir kembali.”
Reinkarnasi bukan hukuman, tetapi kasih Brahman agar kita tumbuh.
Hidup bukan pengulangan, melainkan pendakian menuju kesadaran.
Seperti api yang terus menyala dari dupa ke dupa, jiwa pun terus menyala dari kelahiran ke kelahiran —
membawa cahaya pengetahuan dan karma yang belum selesai.

6. MOKį¹¢A: PEMBEBASAN, BUKAN KEMATIAN
> Kaį¹ha Upaniį¹£ad II.3.14
“Na jÄyate mriyate vÄ kadÄcin.”
“Atman tidak lahir dan tidak mati; ia abadi.”
Mokį¹£a bukan meninggalkan dunia,
tetapi bebas dari keterikatan terhadap dunia. Manusia tidak berhenti bekerja, tapi berhenti mengikat diri pada hasil.
Dalam Lontar Dwijendra Tatwa disebut:
> “Mokį¹£a ring urip, tan hana pati ring suksma.”
“Pembebasan terjadi saat hidup, bukan setelah mati.”
Maka Bhakta yang bekerja dengan damai, berdoa dengan kesadaran,
dan mencintai tanpa pamrih,
telah mencapai Mokį¹£a — bahkan di tengah kesibukan dunia modern.

7. HIDUP DENGAN PAĆCA ÅRADDHÄ DI ZAMAN INI
Semeton, lima keyakinan ini bukan sekadar ajaran suci,
melainkan panduan hidup di abad penuh teknologi dan kebingungan.
Saat dunia sibuk mengejar nama, ÅraddhÄ mengajarkan makna.
Saat manusia tenggelam dalam ambisi, ÅraddhÄ mengingatkan asal.
Saat kejujuran diuji, ÅraddhÄ menguatkan hati.
Saat rasa takut muncul, ÅraddhÄ menuntun pada damai.
PaƱca ÅraddhÄ menanamkan bahwa iman tanpa praktik adalah daun tanpa akar, dan praktik tanpa iman adalah akar tanpa daun.
Keduanya harus menyatu, agar Dharma tumbuh sempurna.

KESIMPULAN BHAWATI-->Semeton, Bhakta Hindu Dharma,
PaƱca ÅraddhÄ adalah lima jembatan antara manusia dan Brahman.
Brahman mengajarkan kita tentang asal.
Ätman menuntun kita mengenal diri.
Karma menjaga keseimbangan langkah.
Punarbhava memberi kita waktu untuk belajar.
Mokį¹£a adalah pulang — ke rumah kesadaran sejati.
Di zaman ini, ÅraddhÄ bukan sekadar diyakini, tapi dihidupi.
Setiap napas, setiap kerja, setiap kasih,
semua adalah bentuk nyata dari YajƱa ÅraddhÄ.
Semetonku, Bhakta Hindu Dharma, demikianlah Ngopi ini —
PaƱca ÅraddhÄ: Lima Nafas Keyakinan Hidup dalam Åruti Murni.
Ikuti terus Ngopi selanjutnya.
Kesempurnaan hanya milik Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Brahman).
Atas kekurangan saya, silakan berikan masukan positif di kolom komentar.
Suksme.
Om ÅÄnti ÅÄnti ÅÄnti Om. Rahayu.

LEKSIKON
ÅraddhÄ: keyakinan suci yang disertai kesadaran
Brahman: sumber kehidupan tertinggi
Ätman: jiwa sejati di dalam diri
Karma Phala: hukum sebab akibat
Punarbhava: kelahiran kembali
Mokį¹£a: kebebasan rohani

DAFTAR PUSTAKA
Åruti Murni:
į¹gveda X.151.4, X.135.1
Yajurveda 32.3
ChÄndogya Upaniį¹£ad 6.8.7
Bį¹hadÄraį¹yaka Upaniį¹£ad 4.4.5
Kaį¹ha Upaniį¹£ad II.3.14
Tutur Gama Tirta
Kawi Tatwa
Dharma Pamacul
Dwijendra Tatwa