Di pergelangan tangan itu terikat lima warna.
Bukan sekadar benang.
Bukan sekadar tradisi.
Ia adalah simbol ikatan suci antara Bhuana Alit dan Bhuana Agung — antara diri dan alam semesta.
Benang Panca Datu terdiri dari lima warna yang melambangkan lima kekuatan ilahi dan lima unsur pembentuk kehidupan.
Lima warna itu bukan lima Tuhan yang berbeda.
Sebagaimana disebut dalam Rigveda:
"Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti"
Kebenaran itu satu, para bijaksana menyebutnya dengan banyak nama.
Artinya, segala warna berasal dari satu cahaya yang sama.
Dalam ajaran tattwa seperti Siwa Tattwa, dijelaskan bahwa manusia adalah miniatur alam semesta. Unsur api, air, angin, tanah, dan ether ada dalam diri kita. Maka ketika benang Panca Datu melingkar di tangan, sesungguhnya kita sedang mengikat janji pada diri sendiri — untuk hidup selaras dengan Dharma.
Benang ini bukan jimat.
Bukan sekadar hiasan ritual.
Ia adalah pengingat:
Karena keseimbangan semesta dimulai dari keseimbangan diri.
Saat kita mengenakannya dengan sraddha dan bhakti,
kita tidak hanya memohon perlindungan —
kita sedang menyadari bahwa kekuatan semesta itu telah ada di dalam diri.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar